Defisit perdagangan Amerika Serikat (AS) kembali melebar tajam pada Desember lalu, melanjutkan tren buruk selama dua bulan berturut-turut. Total defisit barang dagangan sepanjang tahun 2025 bahkan mencetak rekor tertinggi, mencapai USD 1,24 triliun. Angka ini mengejutkan, mengingat Presiden AS Donald Trump sebelumnya memberlakukan tarif tinggi untuk barang-barang manufaktur asing dengan tujuan menyeimbangkan neraca perdagangan dan melindungi industri dalam negeri.
Penyebab utama pelebaran defisit ini adalah lonjakan impor, khususnya chip komputer dan berbagai produk teknologi canggih lainnya. Perusahaan-perusahaan AS gencar mengimpor komponen ini, terutama dari Taiwan, guna mendukung investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI). Peningkatan impor ini menunjukkan kebutuhan AS akan teknologi demi pengembangan AI, sekaligus menggambarkan ketergantungan pada rantai pasok global.
Meski defisit barang dengan Tiongkok turun hampir 32 persen menjadi USD 202 miliar akibat penurunan ekspor dan impor, hal ini justru mengindikasikan adanya pengalihan rute perdagangan. Buktinya, defisit barang AS dengan Taiwan justru melonjak dua kali lipat menjadi USD 147 miliar, dan dengan Vietnam meroket 44 persen hingga mencapai USD 178 miliar. Ini menegaskan bahwa kebijakan tarif Trump lebih banyak menggeser arah perdagangan daripada benar-benar mengurangi defisit secara keseluruhan.
Faktanya, data dari Departemen Perdagangan AS menunjukkan bahwa kebijakan tarif ini belum mampu menciptakan "kebangkitan manufaktur". Sebaliknya, sektor pabrik justru kehilangan sekitar 83.000 pekerjaan antara Januari 2025 hingga Januari 2026. Chad Bown, seorang pakar ekonomi dari Peterson Institute for International Economics, menegaskan bahwa tidak ada bukti signifikan dalam riset ekonomi yang menunjukkan tarif berdampak besar pada defisit perdagangan secara historis.
Dengan defisit yang terus membengkak, mencapai USD 70,3 miliar pada Desember (jauh di atas perkiraan ekonom yang USD 55,5 miliar), AS menghadapi tantangan serius. Impor yang kuat memang bisa menjadi indikasi investasi bisnis yang sehat, terutama di sektor teknologi. Namun, pemerintah AS kini perlu mengevaluasi kembali efektivitas kebijakan perdagangannya agar tidak hanya menggeser masalah, tapi benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan adil bagi semua pihak.