SAO PAULO - Hakim Agung Brasil, Alexandre de Moraes, resmi mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Eduardo Bolsonaro, adik kandung dari calon presiden Brasil, Flavio Bolsonaro. Langkah hukum ini keluar hanya beberapa minggu sebelum putaran kedua pemilihan presiden digelar, sebuah momen krusial yang diprediksi akan memanaskan suhu politik negara tersebut.
Eduardo, yang saat ini menetap di Texas, Amerika Serikat, dijatuhi hukuman empat tahun penjara pada Juni lalu. Ia terbukti bersalah karena melobi pemerintah AS untuk mengintervensi persidangan ayahnya, mantan Presiden Jair Bolsonaro, serta mendesak penerapan sanksi dan tarif tinggi terhadap Brasil. Hakim De Moraes menegaskan bahwa Eduardo tidak bisa berlindung di luar negeri untuk menghindari hukuman, dan memerintahkan agar hukumannya segera dieksekusi.
Selain memerintahkan penangkapan jika Eduardo kembali ke Brasil, pihak berwenang juga telah membatalkan paspor mantan anggota kongres berusia 42 tahun tersebut. Kasus ini menjadi babak baru dalam drama politik keluarga Bolsonaro, di mana ayah mereka, Jair Bolsonaro, sebelumnya telah divonis 27 tahun penjara pada September 2025 karena terbukti merencanakan kudeta.
Analisis Dampak: Penangkapan ini menjadi senjata makan tuan bagi kubu oposisi menjelang pilpres. Isu 'lawfare' atau kriminalisasi politik diprediksi akan kembali mencuat keras, memobilisasi basis pendukung Flavio Bolsonaro yang merasa hakim De Moraes bertindak berlebihan. Di sisi lain, kubu petahana Lula da Silva akan menggunakan ini sebagai bukti bahwa tidak ada yang kebal hukum. Masyarakat Brasil kini dihadapkan pada polarisasi yang semakin tajam: memilih stabilitas hukum atau kembali ke rezim populis sayap kanan.