Sebuah skandal mengerikan dari Perang Bosnia (1992-1995) kembali mencuat. Jaksa di Italia sedang mendalami dugaan praktik "safari sniper", di mana warga asing, termasuk dari Italia, membayar sejumlah besar uang untuk menembaki warga sipil tak bersalah di Sarajevo. Penyelidikan ini telah mengidentifikasi seorang pria berusia 80 tahun sebagai tersangka utama, memicu geger dan pertanyaan besar tentang kejiwaan di balik kekejaman perang.
Penyelidikan yang digagas jaksa Italia tahun lalu ini terkuak setelah jurnalis sekaligus novelis Ezio Gavazzeni mengajukan laporan hukum. Gavazzeni, yang terinspirasi dari film dokumenter "Sarajevo Safari" (2022), mengklaim adanya warga Italia dan asing lainnya yang membayar tentara Serbia Bosnia untuk diizinkan menjadi "penembak jitu" terhadap penduduk kota yang terkepung.
Seorang pria berusia 80 tahun, mantan sopir truk yang tinggal di dekat Pordenone, Italia utara, kini menjadi sorotan utama. Ia adalah individu pertama yang diidentifikasi dalam penyelidikan ini dan menghadapi tuduhan pembunuhan berencana. Belum jelas apakah pria lansia ini secara langsung terlibat dalam penembakan atau hanya menyediakan transportasi dan logistik untuk para "klien" penembak jitu tersebut. Ia telah dipanggil untuk diinterogasi pada 9 Februari mendatang, namun masih bebas.
Sumber menyebutkan, para "turis" pembunuh ini diduga membayar hingga 100.000 Euro, atau setara dengan sekitar Rp1,6 miliar jika disesuaikan dengan nilai mata uang saat ini, untuk ikut serta dalam perjalanan maut ke Sarajevo. Lebih sadis lagi, Gavazzeni mengungkapkan adanya "daftar harga" untuk jenis target: anak-anak menjadi target termahal, diikuti oleh pria, wanita, dan bahkan lansia yang konon bisa dibunuh secara "gratis".
Para peserta diduga berkumpul di Trieste, Italia, sebelum menyeberang ke Beograd, Serbia, di mana mereka akan dijemput oleh tentara Serbia Bosnia untuk kemudian diantar ke perbukitan yang mengelilingi Sarajevo. Dari sanalah mereka diduga melancarkan aksi penembakan terhadap warga sipil di bawah sana. Laporan juga menyebutkan dugaan keterlibatan warga dari Amerika Serikat dan Rusia dalam praktik keji ini.
Tragisnya, pengepungan Sarajevo selama Perang Bosnia menewaskan sekitar 11.000 warga sipil akibat serangan mortir dan tembakan sniper dari posisi tentara Serbia Bosnia di perbukitan. Skandal "safari sniper" ini tidak hanya membuka luka lama, tetapi juga menyoroti dimensi gelap konflik bersenjata dan pertanyaan tentang moralitas manusia saat perang berkecamuk. Kejahatan yang tersembunyi selama puluhan tahun ini akhirnya mulai terkuak, membawa harapan keadilan bagi para korban.