Perusahaan pelayaran terbesar di dunia, Mediterranean Shipping Company (MSC), tengah menjadi sorotan tajam. Raksasa logistik ini diduga kuat terlibat dalam memfasilitasi pergerakan barang, baik ekspor maupun impor, dari dan menuju permukiman ilegal Israel. Aktivitas ini terjadi di wilayah pendudukan Tepi Barat Palestina serta Dataran Tinggi Golan Suriah, dan yang lebih mencengangkan, disinyalir dengan bantuan operator pelabuhan di Eropa.
Laporan investigasi mengindikasikan bahwa MSC secara aktif menyediakan jalur perdagangan krusial bagi permukiman-permukiman yang oleh mayoritas komunitas internasional dianggap melanggar hukum. Barang-barang dari permukiman ini, yang statusnya ilegal di bawah hukum internasional, dapat mencapai pasar global berkat jaringan MSC dan fasilitas pelabuhan Eropa. Ini berarti, secara tidak langsung, operator-operator pelabuhan di benua biru juga berperan dalam mata rantai perdagangan kontroversial tersebut.
Keterlibatan perusahaan sekelas MSC dan operator pelabuhan Eropa dalam aktivitas ini memicu gelombang pertanyaan serius. Di satu sisi, ini berpotensi memberikan legitimasi ekonomi pada permukiman yang melanggar Konvensi Jenewa Keempat dan berbagai resolusi PBB. Di sisi lain, ini juga menempatkan Uni Eropa dalam posisi dilematis, mengingat kebijakan resminya yang secara konsisten menentang pembangunan permukiman Israel di wilayah pendudukan. Para pegiat hak asasi manusia dan kelompok pro-Palestina kemungkinan besar akan menuntut transparansi lebih lanjut serta mendesak perusahaan-perusahaan terlibat untuk meninjau kembali kebijakan mereka demi menjunjung tinggi etika bisnis dan hukum internasional.