Penegak hukum Amerika Serikat resmi menjerat seorang warga negara bagian Washington, James Cody Bryant (30), terkait tragedi penembakan massal di Sekolah Tumbler Ridge, British Columbia, Kanada. Bryant didakwa dengan tuduhan konspirasi untuk melakukan pembunuhan di negara asing setelah diduga kuat memberikan dana serta arahan teknis kepada pelaku utama, Jesse Van Rootselaar (18), melalui percakapan di internet.
Interaksi antara keduanya terungkap terjadi sejak enam bulan sebelum insiden mematikan tersebut. Jaksa penuntut mengungkapkan bahwa Bryant tidak hanya mengirimkan uang untuk membeli perlengkapan seperti sepatu, tetapi juga menginstruksikan cara menyalakan dan mengendarai mobil untuk mencapai lokasi sekolah. Keduanya bahkan sempat membahas strategi agar aksi mereka viral, termasuk rencana siaran langsung melalui platform Twitch.
Dalam tragedi yang terjadi pada 10 Februari lalu, Van Rootselaar membunuh ibu dan saudara tirinya di rumah sebelum melepaskan tembakan di sekolah. Akibatnya, enam orang tewasâlima di antaranya pelajarâdan 27 lainnya luka-luka. Pelaku yang merupakan mantan siswa tersebut akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri di lokasi kejadian.
Kasus ini mencuatkan sorotan tajam terhadap peran platform digital. Pemerintah British Columbia bahkan menggugat OpenAI, menuduh ChatGPT lalai karena telah menandai akun pelaku terkait ujaran kekerasan senjata namun gagal meneruskannya ke pihak berwenang. CEO OpenAI, Sam Altman, menyampaikan permintaan maaf mendalam atas kelalaian komunikasi dengan penegak hukum tersebut.