Kabar mengejutkan datang dari Vatikan. Paus Leo XIV, yang sebelumnya dikenal sebagai sosok energik dan sporty, harus menjalani operasi pengangkatan lobus paru-paru kanan bagian bawah di Rumah Sakit Gemelli, Roma. Operasi yang berlangsung Selasa sore itu dinyatakan sukses tanpa komplikasi. Namun, hasil pemeriksaan lanjutan mengungkap fakta pahit: Paus didiagnosis menderita adenokarsinoma paru, sejenis kanker paru-paru.
Perubahan kondisi kesehatan ini menjadi perhatian serius, terutama setelah masa kepemimpinan Paus Fransiskus yang sebelumnya sering menggunakan kursi roda. Uskup Agung Paul Gallagher, Menteri Luar Negeri Vatikan, mengakui bahwa kesehatan Paus Leo sebelumnya mungkin sedikit dianggap remeh. "Ini seperti game changer," ujarnya kepada BBC, menyadari bahwa sosok yang tampak bugar kini harus menghadapi proses penuaan dan kerentanan seperti manusia lainnya.
Meski demikian, pihak Vatikan melaporkan bahwa Paus menunjukkan perbaikan yang stabil dan diperkirakan akan memimpin doa Angelus dari rumah sakit. Masa pemulihan diperkirakan memakan waktu sekitar satu minggu. Diagnosis ini memunculkan pertanyaan publik mengenai bagaimana kanker tersebut bisa terdeteksi begitu cepat setelah operasi, mengingat sebelumnya tidak ada gejala infeksi atau penyakit yang dilaporkan.
Dampaknya bagi umat Katolik global tentu signifikan. Selain harus menyesuaikan ekspektasi terhadap agenda kepausan, termasuk rencana kunjungan ke Inggris pada 2027 mendatang, umat diajak untuk lebih empati terhadap keterbatasan fisik pemimpin spiritual mereka. Momen ini juga menjadi pengingat bahwa di balik jabatan suci, seorang Paus tetaplah manusia yang rentan terhadap penyakit.