Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menyerang Iran berujung bumerang. Alih-alih membuat Tehran takluk, serangan tersebut justru memicu krisis ekonomi yang menghantam langsung dompet rakyat Amerika Serikat. Iran membalas dengan menutup jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, yang mengakibatkan lonjakan harga bahan bakar, kebutuhan pokok, dan barang impor di Negeri Paman Sam.
Dampak ekonomi ini menjadi pukulan telak bagi Partai Republik. Survei menunjukkan sekitar 90 persen pemilih menempatkan biaya hidup sebagai faktor utama dalam menentukan pilihan politik mereka. Kekecewaan publik terhadap perang yang dianggap tidak efektif dan melanggar konstitusi ini berujung pada kekalahan telak Partai Republik. Demokrat kini menguasai Senat dan DPR, sebuah perubahan lanskap politik yang drastis.
Selain masalah ekonomi, perang ini juga merusak citra militer AS. Serangan balik Iran dilaporkan melumpuhkan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah dan merusak infrastruktur energi global. Analisis menunjukkan bahwa kekuatan militer AS tidak lagi mampu menekan Iran secara mutlak, sementara rakyat AS harus menanggung beban biaya perang yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari.