Pembalap muda asal Australia, Jack Doohan, baru-baru ini menghebohkan publik dengan pengakuannya terkait pengalaman mencekam di balik gemerlap ajang Formula 1. Melalui serial dokumenter Netflix 'Drive To Survive' yang baru dirilis, Doohan secara gamblang menceritakan bagaimana ia mendapat ancaman pembunuhan serius sebelum akhirnya dicoret dari tim Alpine.
Insiden mengerikan itu terjadi menjelang Grand Prix Miami tahun lalu. Doohan mengaku menerima enam hingga tujuh email yang berisi ancaman akan dibunuh atau dimutilasi jika ia tetap berada di kokpit mobil Alpine. Situasi semakin tegang ketika ia juga mengalami insiden berhadapan dengan tiga 'pria bersenjata', sampai-sampai harus memanggil pengawal polisi untuk mengamankan situasi. Suasana saat itu, menurut Doohan, benar-benar 'berat'.
Ancaman ini datang hanya enam balapan setelah musim dimulai, tepatnya sebelum ia digantikan oleh pembalap asal Argentina, Franco Colapinto, usai GP Miami. Kini, Doohan menjabat sebagai pembalap cadangan untuk tim Haas.
Sebelumnya, Doohan juga sempat mencuit di media sosial tentang pelecehan daring yang menimpa dirinya dan keluarga, mengindikasikan bahwa para penggemar dari negara asal Colapinto, Argentina, berada di balik serangan verbal tersebut. Ironisnya, baik Doohan maupun Colapinto adalah dua pembalap yang tidak berhasil meraih poin sepanjang musim lalu, berkontribusi pada posisi Alpine yang finis paling buncit di klasemen konstruktor.
Kasus yang menimpa Doohan ini kembali menyoroti sisi gelap dunia olahraga profesional, khususnya balap F1. Fanatisme berlebihan yang melampaui batas etika kerap kali berujung pada pelecehan online, bahkan ancaman fisik. Tekanan mental yang dihadapi para atlet tidak hanya datang dari performa di lintasan, tapi juga dari sorotan publik dan fanatisme ekstrem. Hal ini menegaskan pentingnya dukungan keamanan dan kesehatan mental bagi atlet berprofil tinggi, agar mereka bisa berkompetisi tanpa bayang-bayang teror yang membahayakan nyawa.