Jenewa, Swiss – Aksi unjuk rasa besar-besaran menentang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Grup Tujuh (G7) di Evian, Prancis, berakhir rusuh di kota Jenewa, Swiss, pada Minggu (10/6). Sekitar 20.000 demonstran turun ke jalan untuk mengecam pertemuan para pemimpin negara demokrasi terkaya dunia itu.
Aksi yang semula berlangsung damai ini berubah menjadi bentrokan setelah sekelompok demonstran berbaju hitam yang disebut 'Black Bloc' memisahkan diri dari barisan utama. Mereka merusak bangunan, mendobrak barikade, dan membakar beberapa mobil, termasuk sebuah kendaraan Tesla yang sempat disemprot grafiti bertuliskan 'Eat the Rich' (Makanlah Orang Kaya).
Polisi setempat langsung merespons dengan meluncurkan gas air mata dan menyemprotkan meriam air untuk membubarkan massa. Pihak kepolisian menyebut sekitar 600 aktivis Black Bloc terlibat dalam aksi perusakan tersebut.
Unjuk rasa ini terjadi sehari sebelum para pemimpin G7, termasuk Presiden AS Donald Trump dan Presiden Prancis Emmanuel Macron, memulai pertemuan di kota spa Evian yang hanya dipisahkan oleh Danau Geneva. Ribuan personel keamanan dari Swiss dan Prancis dikerahkan di sekitar kawasan danau untuk mengamankan jalannya KTT.
Analisis Dampak: Kerusuhan di Jenewa ini menyoroti meningkatnya ketegangan global terhadap kebijakan negara-negara adidaya. Para pengamat menilai aksi ini bukan sekadar protes biasa, melainkan simbol perlawanan terhadap ketimpangan ekonomi dan keputusan sepihak yang dianggap mengabaikan suara rakyat. Momentum ini juga menjadi perhatian serius bagi aparat keamanan di negara-negara lain, termasuk Indonesia, dalam mengelola potensi unjuk rasa besar yang bisa berubah menjadi anarkis jika tidak diantisipasi sejak dini.