PERANG US-IRAN BIKIN INFLASI AS TEMBUS 4,2 PERSEN - Berita Dunia
← Kembali

PERANG US-IRAN BIKIN INFLASI AS TEMBUS 4,2 PERSEN

Foto Berita

Washington, DC – Perang harga energi akibat konflik AS-Iran di Timur Tengah berhasil mendorong inflasi Amerika Serikat ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Data terbaru dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan inflasi mencapai 4,2 persen, jauh di atas target ideal bank sentral AS (The Fed) yang hanya 2 persen.

Akibat tekanan ini, The Fed di bawah pimpinan Gubernur baru Kevin Warsh memutuskan untuk menahan suku bunga acuan tetap di angka 3,5 hingga 3,75 persen. Keputusan yang diambil dalam rapat kebijakan dua hari pertama Warsh ini bersifat bulat alias unanimous. The Fed mengakui bahwa konflik geopolitik menjadi biang keladi utama, terutama karena memicu kenaikan harga energi yang melonjak 23,5 persen pada bulan Mei lalu.

“Aktivitas ekonomi tetap solid, tapi ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah sangat tinggi,” demikian pernyataan resmi The Fed. Meski ada secercah harapan dari rencana gencatan senjata yang mulai menekan harga minyak mentah ke level terendah tiga bulan, para analis memperingatkan bahwa efeknya ke kantong konsumen tidak akan instan. Hambatan rantai pasok dan menipisnya stok bahan bakar diperkirakan akan membuat harga energi tetap tinggi selama berbulan-bulan ke depan.

Di sisi politik, Presiden Donald Trump yang sebelumnya getol mendorong pemangkasan suku bunga kini harus berbalik arah. Trump secara terang-terangan menentang kenaikan suku bunga dan memuji Warsh, meskipun ada kekhawatiran bahwa tekanan politik ini bisa menggerogoti independensi The Fed. Ekonom Stephen Brown dari Capital Economics menilai, jika Warsh terlalu mengikuti keinginan Trump, justru bisa memicu kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang yang pada akhirnya merugikan pasar.

Ke depan, pasar mulai bersiap. Berdasarkan prediksi CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada September mendatang mencapai 30 persen dan bisa melebihi 50 persen pada Desember, jika kondisi pasar tenaga kerja dan keuangan tetap seperti saat ini.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook