Perundingan damai untuk mengakhiri konflik Ukraina-Rusia yang dijadwalkan pekan depan di Jenewa nampaknya bakal alot. Sinyal ini muncul setelah serangan drone mematikan baru-baru ini merenggut nyawa di kedua belah pihak, sekaligus menebalkan keraguan akan prospek gencatan senjata.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio secara terpisah mengisyaratkan beratnya mencapai kesepakatan. Di Konferensi Keamanan Munich, Zelenskyy blak-blakan merasa kedua belah pihak sering "membicarakan hal yang berbeda" dalam negosiasi. Ia juga menyoroti bagaimana Amerika Serikat sering kembali membahas konsesi dari Ukraina, alih-alih Rusia.
Kecurigaan senada disampaikan Rubio. "Kami tidak tahu apakah Rusia serius ingin mengakhiri perang," ujarnya di acara yang sama, menegaskan bahwa AS akan terus menguji niat Moskow. Salah satu ganjalan utama dalam negosiasi adalah tuntutan Rusia agar Ukraina menarik penuh pasukannya dari wilayah Donetsk timur yang masih mereka kuasai. Jelas, Kyiv menolak keras penarikan unilateral dan justru menuntut jaminan keamanan Barat untuk mencegah invasi berulang jika gencatan senjata tercapai.
Dari sisi Eropa, Menteri Luar Negeri Belanda David van Weel menyarankan Presiden AS Donald Trump untuk lebih memberi tekanan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, bukan Zelenskyy. Menurut van Weel, Putin belum menunjukkan itikad baik untuk berunding serius, sementara Ukraina sudah siap. Sebelumnya, AS memang dikabarkan telah memberi tenggat waktu Juni untuk kesepakatan, meski ultimatum Trump sebelumnya belum pernah berujung pada terobosan nyata.
Konflik yang sebentar lagi memasuki tahun kelima ini telah memakan korban ratusan ribu tentara dan puluhan ribu warga sipil. Angka ini menjadikan perang di Ukraina sebagai konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II. Kondisi di lapangan yang masih panas, ditambah rumitnya meja perundingan, menunjukkan betapa jalan menuju perdamaian masih panjang dan terjal. Jika negosiasi ini buntu, konflik dipastikan bakal berlarut, menambah penderitaan kemanusiaan, dan terus mengancam stabilitas global, bukan hanya di Eropa.