Selama masa kampanye pemilu Israel, perhatian publik internasional selalu terfokus pada dua kubu utama: pendukung dan penentang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Banyak pengamat luar negeri berasumsi bahwa kemenangan salah satu kubu akan membawa perubahan signifikan, terutama terkait solusi dua negara dan masa depan Palestina. Namun, asumsi ini dinilai keliru besar.
Analis politik sekaligus pengacara asal Palestina-Kanada menegaskan bahwa perubahan politik yang nyata tidak akan pernah lahir dari dalam masyarakat Israel, melainkan hanya bisa datang dari tekanan eksternal. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa baik kubu pro-Netanyahu maupun oposisi memiliki pandangan yang sama terkait penolakan terhadap kebebasan Palestina. Retorika kampanye justru dipenuhi janji untuk melanjutkan pendudukan, perluasan permukiman ilegal, hingga operasi militer di Gaza.
Bahkan tokoh oposisi yang dianggap sayap kiri sekalipun, seperti Yair Golan, tetap mendukung permukiman ilegal dan mengkritik pengakuan internasional terhadap Palestina. Tidak ada satu pun kandidat yang mendukung berdirinya negara Palestina. Situasi ini diperparah dengan absennya isu genosida, tuntutan hukum di Mahkamah Internasional (ICJ), dan kejahatan perang dalam agenda debat publik Israel. Dampaknya, masyarakat internasional perlu menyadari bahwa harapan akan perdamaian dari dalam kotak suara Israel hanyalah ilusi belaka.