PENULIS ZIMBABWE DITUDUH PAKAI AI, HADIAH DITARIK? - Berita Dunia
← Kembali

PENULIS ZIMBABWE DITUDUH PAKAI AI, HADIAH DITARIK?

Foto Berita

Jakarta, CNN Indonesia — Simbarashe Kundizeza, penulis asal Zimbabwe, kini berada di pusaran kontroversi. Ia baru saja memenangkan penghargaan bergengsi Caine Prize for African Writing 2024 senilai £10.000 (sekitar Rp206 juta) untuk cerpennya yang berjudul 'The Blue Fighter'. Namun, kebahagiaan itu terusik setelah majalah The Atlantic menerbitkan artikel yang menuduhnya menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menulis karya tersebut.

Dalam artikel berjudul 'Yet Another Prizewinner Seems to Be AI', The Atlantic mengutip analisis dari Pangram, sebuah perangkat lunak pendeteksi AI. Hasilnya, Pangram mengklaim bahwa cerpen Kundizeza sepenuhnya dihasilkan oleh AI. Tuduhan ini sontak memicu kemarahan di media sosial.

Kundizeza dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Melalui akun X (Twitter), ia menulis, 'Untuk menghindari keraguan, saya menulis The Blue Fighter.' Ia mengaku terinspirasi oleh sebuah puisi tentang akuarium ikan untuk menulis cerita tentang perjuangan keluarganya di Zimbabwe.

Ketua Caine Prize, Ellah Wakatama, menyatakan keterkejutannya atas terbitnya artikel The Atlantic. Ia menilai majalah tersebut terlalu terburu-buru mempublikasikan tuduhan sebelum investigasi internal selesai. 'Saya berharap The Atlantic menghabiskan lebih banyak waktu untuk menyelidiki ini... sebelum mencemari penghargaan dan mencemari pemenang ini,' ujarnya kepada BBC.

Kasus ini bukan yang pertama di dunia sastra. Sebelumnya, Commonwealth Short Story Prize juga diwarnai tuduhan serupa terhadap penulis Trinidad, Jamir Nazir. Penulis Kanada-Haiti, Thélyson Orélien, juga mundur dari penghargaan sastra teratas Prancis, Goncourt, akibat tuduhan penggunaan AI.

Di media sosial, tuduhan ini memicu perdebatan soal rasisme. Banyak penulis Afrika dan kulit berwarna menilai tuduhan penggunaan AI ini lebih sering dialamatkan kepada penulis non-kulit putih. Wale Lawal, pendiri majalah The Republic, menyebut artikel The Atlantic sebagai 'gila, rasis, dan tidak etis'.

Penerbit Nigeria, Modupe Daramola, mempertanyakan mengapa tuduhan AI ini seringkali menargetkan penulis kulit hitam dan Afrika. Ia juga menyoroti ironi di balik penggunaan Pangram, yang menurutnya juga merupakan produk AI, untuk menilai karya manusia. 'Mengapa penilaiannya harus dianggap definitif?' tanyanya.

Saat ini, Caine Prize tengah melakukan investigasi internal. Kundizeza diminta menyerahkan dokumentasi draf tulisannya sebagai bukti. Dunia sastra menanti hasilnya: apakah ini sebuah kesalahan deteksi AI, ataukah ini awal dari era baru di mana karya manusia tidak lagi bisa dibedakan dari mesin?


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook