NEW DELHI - Gelombang demonstrasi besar-besaran kembali mengguncang India. Ratusan orang ditangkap polisi setelah aksi unjuk rasa yang digerakkan oleh koalisi mahasiswa dan Partai Cockroach Janta (CJP) berujung bentrok dengan aparat keamanan di New Delhi dan Mumbai, Jumat (waktu setempat).
Massa menuntut pengunduran diri Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) India, Gyanesh Kumar, buntut kontroversi daftar pemilih yang dianggap merugikan jutaan warga. Aparat tidak tinggal diam. Kepolisian Delhi memberlakukan Pasal 163 yang melarang kerumunan lebih dari lima orang, serta menutup setidaknya 11 stasiun metro di sekitar Jantar Mantar.
Akibatnya, lebih dari 500 demonstranātermasuk mantan Menteri Utama Delhi, Atishi Marlenaādibekuk dan dimasukkan ke dalam bus. "Hak untuk protes adalah hak fundamental kami. Kami ingin jawaban dari pemerintah soal pencurian suara ini," ujar Rishabh Singh, salah satu demonstran, seperti dikutip Reuters.
Di Mumbai, massa mulai berkumpul di Shivaji Park sejak sore hari. Polisi bersenjata lengkap berjaga ketat dan memberlakukan zona bebas parkir. CJP menegaskan aksi ini baru permulaan dan akan menyebar ke seluruh negeri hingga Kumar mundur.
Analisis Dampak: Gerakan ini menunjukkan pergeseran lanskap politik India. Apa yang dimulai sebagai satire online kini berubah menjadi gerakan massa riil yang mampu menggerakkan ratusan ribu orang. Isu integritas pemilu menjadi titik kritis yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat, dari mahasiswa hingga politisi oposisi. Jika pemerintah tidak segera merespons tuntutan ini, eskalasi konflik bisa memicu ketidakstabilan politik yang lebih luas menjelang pemilu mendatang.