Situasi di Timur Tengah makin genting. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan menghancurkan total pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka penuh Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Ultimatum keras ini dilayangkan di tengah memanasnya konflik AS-Israel melawan Iran yang kini sudah memasuki hari ke-23.
Ancaman Trump muncul setelah laporan ledakan di timur Teheran, menyusul serangan baru Israel ke ibu kota Iran. Tak tinggal diam, Iran membalas serangan tersebut dengan meluncurkan rudal ke sejumlah kota di Israel dan negara-negara regional. Hampir 100 orang dilaporkan terluka akibat serangan rudal Iran di kota-kota seperti Arad dan Dimona, yang berada di dekat fasilitas nuklir Israel.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut malam itu sebagai 'malam yang sangat sulit dalam perjuangan untuk masa depan kami', menggambarkan dahsyatnya serangan balasan Iran. Ketegangan yang kian memuncak ini berpotensi merembet luas.
Penutupan Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak global, berpotensi memicu gejolak harga energi dunia dan mengganggu rantai pasok. Ini akan berdampak luas, tidak hanya bagi kawasan, tapi juga ekonomi global. Apalagi, serangan yang disebut Iran menyasar kota-kota di dekat fasilitas nuklir Israel, turut menambah kekhawatiran akan eskalasi konflik yang bisa berujung pada konsekuensi tak terduga bagi stabilitas regional dan keamanan internasional.