Ribuan warga sipil Sudan yang mengungsi di kota El-Geneina, Darfur Barat, kini berjuang melawan kelaparan dan krisis air bersih. Mereka terpaksa bertahan hidup di ruang-ruang kuliah Fakultas Kedokteran Universitas El-Geneina yang disulap menjadi tempat penampungan darurat.
Salah satu pengungsi, Zainab (bukan nama sebenarnya), menceritakan kisah pilu keluarganya. Ia kehilangan tiga dari enam anaknya dalam serangan yang ia tuduhkan kepada Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) di Omdurman pada Juni 2024. Suaminya yang seorang polisi juga hilang saat kota itu dilanda pertempuran sengit. Kini, ia tinggal di gubuk kecil buatan sendiri di halaman kampus bersama tiga putrinya yang tersisa. Dua di antaranya masih menderita luka akibat pecahan peluru, namun biaya operasi sebesar 2.000 dolar AS (sekitar Rp32 juta) mustahil ia penuhi.
Kota El-Geneina saat ini dikuasai oleh Pasukan Dukungan Cepat (RSF) sejak akhir 2023, setelah pertempuran sengit yang oleh PBB disebut sebagai 'salah satu kekerasan terburuk dalam perang ini'. Kekerasan itu secara khusus menargetkan suku non-Arab Masalit dan telah digolongkan sebagai 'kejahatan terhadap kemanusiaan'. Sementara itu, SAF berhasil merebut kembali Khartoum dari RSF pada Mei 2025. Kedua pihak saling dituding melakukan kejahatan perang, dengan lebih dari 50.000 orang dilaporkan tewas sejak konflik meletus pada April 2023.
Analisis: Krisis kemanusiaan di Sudan terus memburuk karena bantuan internasional macet di tengah konflik berkepanjangan. Transformasi ruang kuliah menjadi kamp pengungsian menunjukkan tingkat keputusasaan yang ekstrem. Tanpa intervensi segera, angka kematian akibat kelaparan dan penyakit yang bisa dicegah diprediksi akan melonjak drastis, terutama di wilayah yang dikuasai RSF seperti Darfur. Kondisi ini juga menjadi bom waktu bagi stabilitas regional di Afrika Timur.