Amedspor, klub sepak bola kebanggaan Diyarbakir, kota mayoritas Kurdi di Turki tenggara, baru-baru ini diganjar sanksi berat oleh Federasi Sepak Bola Turki (TFF). Mereka didenda 802.500 lira Turki (sekitar Rp400 juta) dan sang presiden, Nahit Eren, diskors 15 hari dari semua kegiatan sepak bola. Pemicunya? Sebuah video berdurasi 20 detik yang diunggah di akun media sosial klub.
Video tersebut menampilkan seorang wanita yang sedang mengepang rambutnya, diiringi lagu dengan slogan populer Kurdi, “Jin, jiyan, azadi” yang berarti “Perempuan, hidup, kebebasan”. TFF menilai tindakan ini sebagai “propaganda ideologis” yang dianggap merusak reputasi sepak bola. Padahal, aksi mengepang rambut telah menjadi simbol solidaritas dengan warga Kurdi Suriah, terutama setelah beredarnya video kontroversial seorang tentara Suriah yang memamerkan kepangan rambut yang diklaimnya diambil dari pejuang wanita Kurdi di Raqqa.
Ketua Amedspor, Nahit Eren, telah menyatakan banding atas keputusan ini. Insiden ini bukan sekadar sanksi olahraga biasa, melainkan cerminan dari ketegangan politik dan identitas etnis yang kerap membayangi Turki, khususnya terkait isu Kurdi. Slogan “Jin, jiyan, azadi” sendiri punya makna universal yang kuat, bahkan menjadi seruan penting dalam protes hak-hak perempuan di Iran baru-baru ini. Hukuman ini bisa dianggap sebagai upaya membungkam ekspresi budaya dan identitas Kurdi, di tengah potensi Amedspor promosi ke Super Lig Turki untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka.