Jakarta – Pasar kendaraan listrik di India akhirnya menunjukkan geliat serius. Data terbaru mengungkapkan, penjualan mobil listrik di negara itu tumbuh 25% pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Lebih penting lagi, pangsa pasar kendaraan listrik di segmen mobil penumpang berhasil menembus angka 5%—sebuah ambang batas yang dianggap sebagai titik kritis menuju adopsi massal.
Asosiasi dealer mobil India menyebut transisi ini tidak lagi sekadar arah, tapi sudah menjadi kenyataan substansial. Lonjakan ini terutama terjadi pada mobil-mobil besar dengan harga di atas 1 juta rupee atau sekitar Rp 200 juta. Di segmen tersebut, satu dari sepuluh mobil yang terjual kini sudah bertenaga listrik. Sementara itu, kendaraan roda tiga listrik sudah menguasai 30% pasar, dan motor listrik menyentuh 15% penjualan.
Analis menilai, peningkatan minat ini dipicu oleh konflik Timur Tengah yang membuat harga minyak meroket 50%. India yang mengimpor hampir 90% kebutuhannya akan minyak, terpaksa menaikkan harga BBM setelah empat tahun stabil. Perdana Menteri Narendra Modi bahkan mengimbau warganya untuk menggunakan transportasi umum dan bekerja dari rumah demi menghemat bahan bakar. Kondisi ini, menurut broker Nomura, menjadi dorongan tambahan yang memperkuat alasan beralih ke kendaraan listrik.
Faktor jangka panjang juga ikut bermain. Regulasi baru bernama CAFE-3 yang mulai berlaku April tahun depan akan memaksa produsen mobil menurunkan emisi karbon hingga 33% pada 2032. Berbeda dengan aturan sebelumnya yang longgar, CAFE-3 akan memberlakukan denda miliaran dolar bagi pabrikan yang melanggar. Hal ini diprediksi akan mempercepat produksi mobil listrik secara signifikan.
Tak hanya itu, Delhi yang merupakan salah satu kota paling tercemar di dunia tengah menyusun kebijakan radikal: melarang registrasi kendaraan roda dua dan tiga bermesin bensin baru mulai 2027. Dengan deretan model baru yang akan diluncurkan, Nomura memperkirakan penetrasi kendaraan listrik di India bisa mencapai 9% pada 2030.