PARIS – Euforia kemenangan Paris Saint-Germain (PSG) di final Liga Champions justru berujung petaka. Kerusuhan massal meletus di seantero Prancis setelah PSG menaklukkan Arsenal. Data terbaru dari Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez mencatat, sedikitnya 219 orang terluka dalam bentrokan antara suporter dan aparat keamanan. Delapan di antaranya dalam kondisi kritis, sementara 57 polisi ikut menjadi korban.
Tak berhenti di situ, gelombang anarkis juga memicu 780 penangkapan. Lebih dari 450 orang masih ditahan. Aksi brutal ini bahkan merenggut satu nyawa. Seorang pria berusia 24 tahun tewas dalam kecelakaan di jalan lingkar Paris (ring road) setelah perusuh mencoba memblokade jalan tersebut. Satu remaja lainnya juga kritis akibat perkelahian di kawasan lain kota Paris.
Pemerintah Prancis mengerahkan sekitar 6.000 personel kepolisian untuk mengamankan pesta kemenangan di Menara Eiffel. Meski parade berlangsung damai, polisi tetap menyemprotkan gas air mata di pusat kota untuk membubarkan massa yang mulai merusak properti. Nuñez menegaskan, pihaknya akan bersikap keras terhadap perusuh. 'Kami mengizinkan kebebasan berkumpul, tapi tidak untuk tindakan berlebihan,' tegasnya.
Menariknya, politisi sayap kanan Marine Le Pen menyindir situasi ini. 'Hanya di Prancis, kemenangan klub sepak bola memicu kerusuhan. Hanya di Prancis, semua orang merasa harus mengunci diri di rumah saat timnya menang,' cuitnya di media sosial.
Analisis: Insiden ini bukan pertama kalinya. Tahun lalu, saat PSG juara, kerusuhan serupa juga terjadi hingga memakan korban jiwa. Fenomena ini menunjukkan adanya masalah sosial yang lebih dalam, yaitu infiltrasi kelompok anarkis yang tidak peduli sepak bola. Mereka memanfaatkan momen keramaian untuk bertindak kriminal. Ini menjadi peringatan bagi penyelenggara event besar di negara mana pun, termasuk Indonesia, untuk memperketat pengamanan dan pengawasan terhadap kelompok preman berkedok suporter.