Jakarta, CNN Indonesia -- Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah lima hari berturut-turut saling serang. Kedua pihak sama-sama mengaku siap berdamai, tapi tak ada yang mau mengalah duluan.
Pakistan yang jadi penengah utama justru mendesak agar pertumpahan darah segera dihentikan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, Kamis lalu, menegaskan bahwa dialog dan diplomasi adalah satu-satunya jalan untuk mencapai perdamaian yang langgeng.
Di atas kertas, retorika kedua negara masih keras. Presiden AS Donald Trump berkali-kali menyebut Iran 'putus asa' ingin berdamai, tapi ia tak percaya Teheran bakal menepati janji. Sebaliknya, negosiator utama Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, justru menyatakan perang eksistensial dengan Amerika dan tak punya alasan lagi untuk mematuhi kesepakatan damai.
Tapi, bisakah kedua negara benar-benar bertahan dalam perang berkepanjangan? Data menunjukkan tekanan ekonomi dan militer mulai menggerogoti kedua kubu.
Ekonomi Iran Tersungkur
Iran sudah lama menjadi negara paling terkena sanksi di dunia. Embargo AS membuat ekspor minyak Iran jeblok dari 2,2 juta barel per hari (bph) di 2012 menjadi hanya 1,5 juta bph di 2025. Pendapatan per kapita warga Iran pun ambrol dari 8.000 dolar AS di 2012 menjadi hanya 5.000 dolar AS di 2024.
Sempat ada secercah harapan saat gencatan senjata Juni lalu. AS mencabut blokade laut, memberikan keringanan sanksi, dan berjanji membekukan aset Iran. Nilai tukar rial Iran pun melonjak 15 persen. Namun, minggu ini AS kembali menjatuhkan sanksi, membuat ekonomi Iran kembali terpuruk.
Alutsista Iran Terkuras
Dari sisi militer, Iran memang masih garang membalas serangan ke pangkalan AS di negara-negara Teluk. Tapi, menurut analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS), serangan AS-Israel di fase awal perang telah menggerogoti kekuatan Iran. Per 1 April lalu, Iran sudah kehilangan 30 persen stok rudal dan 60 persen drone yang dimiliki sebelum perang.
Dengan kondisi ekonomi yang ringsek dan alutsista yang terus terkuras, pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang lebih kuat, melainkan siapa yang lebih dulu kehabisan napas.