Glasgow, Skotlandia - Rencana Celtic FC menunjuk Robbie Keane sebagai manajer baru memicu gelombang protes dari suporter fanatiknya. Keane, yang merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang masa Timnas Irlandia, dianggap bermasalah karena pernah melatih klub asal Israel, Maccabi Tel Aviv, di tengah konflik Gaza.
Keane, 45 tahun, disebut-sebut sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan pelatih interim Martin O'Neill. Namun, langkah ini langsung ditolak keras oleh kelompok suporter pro-Palestina yang cukup vokal di klub Skotlandia itu. Mereka menilai Keane tidak punya sensitivitas moral karena memilih bertahan di Israel saat serangan militer gencar dilancarkan ke Gaza.
Sebuah kelompok bernama 'Celtic Fans for the Liberation of Palestine' bahkan mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka menegaskan bahwa mempekerjakan Keane akan memecah belah basis suporter. "Celtic didirikan oleh komunitas yang lahir dari warisan genosida, pengungsian, dan kelaparan. Akar klub kami adalah solidaritas terhadap mereka yang tertindas," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Laporan dari Al Jazeera menyebutkan, spanduk penolakan dan grafiti sudah bermunculan di luar stadion Celtic Park. Puluhan kelompok suporter lainnya juga turut mendukung aksi penolakan ini. Keane sendiri sebelumnya membela keputusannya dengan alasan tanggung jawab terhadap staf yang dibawanya ke Israel.
Analisis Dampak: Situasi ini menjadi dilema besar bagi manajemen Celtic. Di satu sisi, mereka membutuhkan pelatih bereputasi seperti Keane. Namun di sisi lain, mengabaikan suara suporter bisa memicu krisis kepercayaan dan perpecahan di dalam klub. Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa isu geopolitik seperti konflik Israel-Palestina kini semakin sering berdampak langsung pada dunia sepak bola, memaksa klub untuk lebih hati-hati dalam mengambil keputusan strategis.