JAKARTA — Ketegangan antara Rusia dan negara-negara Eropa kembali memanas. Baru-baru ini, sebuah acara simulasi perang (war-game) di Inggris yang menggambarkan serangan Rusia terhadap Eropa memicu reaksi keras dari Moskow. Kremlin langsung melayangkan peringatan nuklir sebagai bentuk protes terhadap skenario tersebut.
Reaksi ini bukan tanpa alasan. Sejumlah pemerintah Eropa dilaporkan tengah meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai potensi ancaman dari Rusia. Mulai dari serangan hibrida (hybrid attacks) hingga perencanaan menghadapi skenario korban massal (mass-casualty planning) kini menjadi agenda utama di beberapa negara.
Langkah ini menunjukkan bahwa Eropa tidak lagi menganggap ancaman Rusia sebagai sekadar retorika. Mereka mulai mengambil langkah nyata untuk melindungi infrastruktur kritis dan warga sipil. Namun, eskalasi ini memicu pertanyaan besar: apakah ini persiapan defensif yang wajar, atau justru memicu spiral ketegangan baru yang berbahaya?
Analisis Al Jazeera menyebutkan bahwa peningkatan militansi ini didorong oleh kekhawatiran bahwa konflik di Ukraina bisa meluas ke wilayah NATO. Bagi masyarakat Eropa, dampaknya terasa pada kenaikan anggaran pertahanan dan perubahan prioritas kebijakan publik. Situasi ini menjadi pengingat bahwa bayang-bayang perang dingin kembali menghantui benua tersebut.