Jakarta, CNN Indonesia — Sebuah investigasi terbaru mengungkap fakta mengejutkan di balik serangan presisi yang dilancarkan kelompok Houthi terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi. Laporan dari firma intelijen berbasis di Jenewa, AURORAH GeoSignal Intelligence, menemukan bahwa satelit milik pemerintah dan militer Rusia secara aktif memata-matai wilayah target beberapa hari sebelum serangan terjadi.
Penelitian yang menganalisis 40 serangan misil dan drone antara Juli hingga Oktober ini menemukan pola konsisten: satelit Rusia—termasuk tipe Bars-M, Persona, dan Lotos-S1—mengamati area sasaran sebelum dan sesudah serangan. Dukungan intelijen ini memungkinkan Houthi melancarkan serangan presisi, termasuk terhadap pipa minyak utama East-West milik Saudi.
Pendiri AURORAH, Nawaf Obaid, menyebut temuan kunci bukan sekadar keberadaan satelit, melainkan integrasi kemampuan intelijen Rusia dengan arsitektur komando Iran yang membantu operasi Houthi di lapangan. Situasi ini diperparah dengan penguasaan penuh Houthi atas pesisir Laut Merah Yaman, yang mengancam stabilitas jalur pelayaran global.
Analisis Dampak: Dukungan satelit Rusia ini mengubah lanskap konflik Timur Tengah. Bagi masyarakat global, eskalasi ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia akibat terganggunya pasokan dari Arab Saudi. Sementara bagi Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, ketegangan di Selat Bab al-Mandeb dapat memperpanjang rute pelayaran dan menaikkan biaya logistik yang berujung pada inflasi.