Pemerintah Prancis resmi menghentikan sementara penggunaan granat kejut (stun grenade) dalam pengamanan demonstrasi pelajar yang semakin meluas di seluruh negeri. Keputusan ini diambil setelah insiden tragis yang menimpa seorang remaja berusia 15 tahun di Kota Lens, yang kehilangan tangannya akibat ledakan granat tersebut.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez menyatakan bahwa penangguhan berlaku hingga fakta terkait insiden Senin lalu tersebut benar-benar terang. Insiden ini memicu kemarahan publik karena adanya kontradiksi antara keterangan polisi dan para demonstran. Pihak berwenang mengklaim korban memungut granat yang meledak, sementara saksi dari kalangan pelajar menegaskan korban terkena tembakan langsung aparat.
Gelombang protes yang awalnya dipicu oleh kondisi sekolah yang buruk ini telah berkembang menjadi gerakan besar yang melibatkan orang tua, mahasiswa, dan serikat pekerja. Pada Selasa lalu, ratusan ribu orang turun ke jalan di berbagai kota, memaksa aparat mengerahkan gas air mata dan meriam air. Kementerian Dalam Negeri mencatat 488 orang ditahan dan 43 anggota pasukan keamanan terluka dalam kerusuhan tersebut.
Kekhawatiran publik semakin meningkat seiring terungkapnya kasus serupa, termasuk seorang remaja 14 tahun yang kehilangan gigi dan mengalami rahang patah akibat terkena granat gas air mata pekan lalu. Otoritas pengawas kepolisian (IGPN) kini membuka 18 penyelidikan untuk menilai apakah tindakan aparat di lapangan sudah proporsional atau berlebihan.