LONDON – Pemerintah Inggris angkat bicara soal selebrasi kontroversial Timnas Argentina usai melaju ke final Piala Dunia. Menteri Bisnis Peter Kyle secara resmi mendesak FIFA untuk menyelidiki aksi para pemain Argentina yang mengangkat spanduk bertuliskan 'Las Malvinas son Argentinas' (Kepulauan Malvinas milik Argentina) di lapangan setelah kemenangan semifinal atas Inggris pada Rabu (26/6) waktu setempat.
Kantor Perdana Menteri Keir Starmer di Downing Street langsung mendukung langkah Kyle. Juru bicara Downing Street bahkan melontarkan pernyataan sengit, 'Piala Dunia mungkin bukan milik kami, tapi Kepulauan Falklands jelas milik kami.'
Kyle menilai aksi ini sebagai pelanggaran berat terhadap aturan FIFA yang melarang simbol politik di lapangan. 'Politik harus dipisahkan dari sepak bola. Ini sudah menjadi prinsip utama Piala Dunia,' tegas Kyle kepada BBC. Ia mendesak FIFA untuk menyelidiki insiden yang terjadi di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat itu secara menyeluruh.
Ketegangan ini bukan tanpa latar belakang. Inggris dan Argentina terlibat perang singkat pada 1982 setelah Argentina menginvasi Kepulauan Falklands. Konflik tersebut menewaskan 649 tentara Argentina dan 255 prajurit Inggris. Hingga kini, Argentina terus mengklaim kepemilikan pulau yang dikuasai Inggris sejak abad ke-19 itu.
Memanaskan situasi, Wakil Presiden Argentina Victoria Villarruel menyebut Inggris sebagai 'bajak laut perampas' sebelum pertandingan dimulai. Tak hanya itu, Menteri Luar Negeri Argentina Pablo Quirno secara resmi memprotes kapal perang Inggris HMS Medway yang berpatroli di dekat Kepulauan Falklands. Quirno menganggap kehadiran kapal tersebut sebagai pelanggaran perjanjian bilateral dan telah mengirimkan nota diplomatik ke kedutaan Inggris di Buenos Aires.
Analisis Dampak: Insiden ini berpotensi memicu krisis diplomatik baru antara London dan Buenos Aires di tengah momentum olahraga global. Jika FIFA menjatuhkan sanksi, Argentina bisa menghadapi denda atau hukuman lain yang akan memengaruhi kredibilitas mereka sebagai juara bertahan. Di sisi lain, aksi ini justru bisa memperkuat sentimen nasionalisme Argentina di dalam negeri. Media internasional juga menyoroti bahwa momen sepak bola sering menjadi panggung politik yang sensitif, terutama di kawasan yang memiliki sejarah konflik.