Ketegangan memuncak di perbatasan Asia Tengah! Pakistan secara mengejutkan mengumumkan 'perang terbuka' terhadap pemerintahan Taliban Afghanistan setelah rentetan serangan dan baku tembak. Situasi ini memicu kekhawatiran global, dengan berbagai negara mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa konflik ini kembali berkobar?
Deklarasi perang terbuka dari Pakistan pada Jumat kemarin menyusul laporan ledakan di Kabul dan pertempuran sengit di beberapa lokasi sepanjang perbatasan kedua negara. Islamabad mengklaim telah melancarkan serangan balasan di Kandahar dan Paktika, jauh di dalam wilayah Afghanistan. Langkah ini adalah respons atas klaim juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, yang sebelumnya menyatakan bahwa Afghanistan sedang melancarkan operasi ofensif skala besar terhadap militer Pakistan di sepanjang Garis Durand, garis perbatasan yang memisahkan kedua negara. Taliban berdalih serangan mereka adalah balasan atas serangan udara Pakistan yang terjadi lebih dulu pada awal pekan ini.
Dunia internasional pun tak tinggal diam. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinan mendalam atas lonjakan kekerasan ini, mendesak Pakistan dan Afghanistan untuk mematuhi hukum internasional, khususnya dalam melindungi warga sipil. Senada, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyerukan dialog dan prinsip tetangga baik, bahkan menawarkan bantuan mediasi untuk meredakan ketegangan, terutama mengingat bulan suci Ramadan. Rusia juga ikut mendesak penghentian serangan lintas batas dan menawarkan diri sebagai mediator jika kedua pihak setuju.
Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menegaskan bahwa kesabaran negaranya sudah habis. Ia menyalahkan Taliban atas 'terorisme' dan ketidakstabilan di dalam Pakistan, dan menegaskan bahwa angkatan bersenjata mereka akan memberikan respons tegas. 'Kini ini adalah perang terbuka. Kini akan ada tindakan yang menentukan,' ujarnya. Sementara itu, mantan Presiden Afghanistan, Hamid Karzai, menegaskan bahwa rakyat Afghanistan akan membela tanah air mereka dengan persatuan penuh dan akan membalas agresi dengan keberanian, meskipun Pakistan mengklaim pihaknya berupaya menstabilkan situasi. Eskalasi konflik ini berpotensi memicu krisis kemanusiaan lebih lanjut dan destabilisasi regional yang lebih luas, mengingat sejarah panjang ketegangan di perbatasan dan kehadiran kelompok-kelompok militan di wilayah tersebut. Dunia kini menanti langkah diplomatik konkret untuk mencegah pertumpahan darah yang lebih parah.