KETEGANGAN MEMANAS di perbatasan Afghanistan-Pakistan setelah militer Pakistan melancarkan serangan udara masif ke wilayah Afghanistan pada Minggu. Islamabad mengklaim serangan itu menyasar kamp dan sarang kelompok militan yang bertanggung jawab atas gelombang serangan teror di Pakistan beberapa waktu terakhir, termasuk aksi bom bunuh diri mematikan di masjid Islamabad dan sejumlah pos militer. Akibatnya, hubungan kedua negara terancam memburuk tajam.
Serangan yang dikonfirmasi oleh sumber-sumber Afghanistan ini dilaporkan menghantam Provinsi Paktika dan Nangarhar, area perbatasan yang dikenal rawan konflik. Sebuah serangan drone, menurut sumber Al Jazeera, bahkan dilaporkan mengenai sebuah sekolah agama di Paktika. Target utama operasi intelijen selektif ini adalah Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) dan afiliasinya, serta kelompok yang terkait Negara Islam (ISIS) yang diyakini beroperasi dari tanah Afghanistan.
Kementerian Informasi dan Penyiaran Pakistan lewat pernyataan di X menegaskan punya "bukti kuat" bahwa serangan-serangan teranyar di Islamabad, serta distrik Bajaur dan Bannu di barat laut, didalangi oleh militan yang berbasis dan dipimpin dari Afghanistan. Pakistan juga menyebut telah berulang kali mendesak pemerintah Taliban untuk bertindak menumpas kelompok-kelompok bersenjata ini, namun permintaan itu tak digubris. Puncak ketegangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah insiden bom bunuh diri yang menewaskan dua tentara di Bannu, menyusul serangan serupa di Bajaur yang merenggut 11 nyawa tentara dan seorang anak. Sebelumnya, pada 6 Februari, bom bunuh diri juga mengguncang sebuah masjid Syiah di Islamabad, menewaskan sedikitnya 31 jemaah dan melukai 170 lainnya. Kelompok ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan di masjid tersebut.
Analisis: Serangan udara Pakistan ini bukan sekadar respons, melainkan sinyal jelas frustrasi Islamabad terhadap ketidakmampuanāatau keenggananāTaliban untuk mengendalikan kelompok teroris di wilayahnya. Aksi militer ini sangat berisiko memicu eskalasi konflik di perbatasan yang sudah rentan, berpotensi menciptakan gelombang pengungsi baru dan memperparah krisis kemanusiaan. Selain itu, serangan ini juga menjadi pukulan telak bagi legitimasi internasional Taliban yang berjanji tidak akan membiarkan Afghanistan menjadi sarang teror pasca-penarikan pasukan AS. Komunitas internasional kini punya tugas mendesak Taliban untuk mematuhi komitmennya sesuai kesepakatan Doha 2020 demi stabilitas regional.