Hollywood kembali memanas! Kali ini, raksasa teknologi asal Tiongkok, ByteDance, pemilik aplikasi TikTok, menjadi sorotan tajam. Pasalnya, alat pembuat video AI terbaru mereka, Seedance 2.0, dituding terang-terangan 'membajak' kekayaan intelektual dan penampilan wajah para aktor tanpa izin. Kelompok-kelompok besar di Hollywood, seperti Motion Picture Association (MPA) dan serikat aktor SAG-AFTRA, geram dengan praktik ini.
Seedance 2.0, yang saat ini baru tersedia di Tiongkok, memungkinkan penggunanya menciptakan video AI berkualitas tinggi hanya dengan perintah teks sederhana. Namun, menurut MPA, alat ini 'secara masif' menggunakan karya berhak cipta Amerika Serikat tanpa otorisasi. Bayangkan saja, video yang viral menunjukkan versi AI dari Tom Cruise dan Brad Pitt bertarung di dunia pasca-apokaliptik, memicu kekhawatiran serius di kalangan kreator film.
Para aktor dan penulis skenario, seperti Rhett Reese (penulis film Deadpool), bahkan merasa putus asa, menganggap ini bisa jadi 'akhir' bagi profesi mereka. SAG-AFTRA menegaskan, penggunaan suara dan rupa anggota mereka tanpa izin adalah 'tidak dapat diterima' dan mengancam mata pencarian talenta manusia. Mereka menuntut ByteDance bertanggung jawab penuh.
Menanggapi kecaman ini, ByteDance menyatakan menghormati hak kekayaan intelektual dan berjanji akan memperkuat langkah-langkah pengamanan untuk mencegah penyalahgunaan. Namun, menurut jurnalis dan pengacara hiburan, Jonathan Handel, ini baru permulaan dari 'jalan yang sulit' bagi industri film. Perkembangan AI yang sangat cepat diperkirakan akan menghasilkan film panjang sepenuhnya dari AI dalam beberapa tahun ke depan, padahal sebagian besar AI dilatih menggunakan data yang belum tentu berizin.
Polemik ini bukan sekadar tentang Seedance 2.0 semata, melainkan cerminan dari pertarungan besar antara inovasi teknologi dan perlindungan hak cipta serta mata pencarian di industri kreatif. Ini juga mengingatkan kita pada aksi mogok besar-besaran di Hollywood tahun lalu, di mana isu AI menjadi salah satu tuntutan utama. Tanpa regulasi dan putusan pengadilan yang jelas, masa depan industri film, seperti yang kita kenal, bisa jadi di ujung tanduk.