Jakarta - Presiden FIFA, Gianni Infantino, kini berada di posisi yang sangat sulit. Hanya dua minggu setelah puncak kesuksesan Piala Dunia 2024 di Amerika Serikat, ia harus menghadapi badai besar. Rencananya menjual saham kompetisi FIFA kepada investor swasta menuai kecaman keras dan terpaksa dibatalkan.
Masalahnya tidak berhenti di situ. UEFA, sebagai badan sepak bola Eropa, secara mengejutkan menyatakan telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino. Mereka bahkan mengancam akan memboikot kompetisi FIFA. Konfederasi sepak bola Asia (AFC) dan Amerika Utara (Concacaf) juga ikut menyoroti kelemahan dalam proses konsultasi dan pengambilan keputusan FIFA.
Staf khusus Infantino, Carlos Cordeiro, yang ditunjuk oleh Presiden AS Donald Trump untuk gugus tugas Piala Dunia 2026, juga telah mengundurkan diri. Bahkan, COO FIFA, Kevin Lamour, mengaku pihak administrasi FIFA sendiri merasa 'dibodohi' oleh proyek kontroversial tersebut.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai Infantino masih mungkin bertahan. Mantan ketua FA Inggris, David Bernstein, mengatakan FIFA bukan organisasi normal dan Infantino bisa terus berkuasa jika masih mendapat dukungan dari asosiasi nasional. Mantan wakil presiden FIFA, Jim Boyce, juga memperkirakan Infantino masih akan terpilih kembali untuk periode terakhirnya, meski ia mengakui situasi bisa berubah cepat.