JAKARTA — Dua mantan diplomat senior dari Iran dan Amerika Serikat (AS) sepakat bahwa konflik bersenjata yang melibatkan Iran diprediksi akan semakin memburuk dalam beberapa pekan ke depan. Mereka menilai situasi ini tidak akan mengarah pada kesepakatan damai dalam waktu dekat.
Hossein Mousavian, mantan diplomat Iran, dan Alan Eyre, mantan diplomat AS, mengungkapkan hal tersebut dalam sebuah diskusi. Keduanya merupakan figur yang pernah terlibat langsung dalam negosiasi program nuklir Iran sebelumnya.
Menurut Mousavian, kepemimpinan Iran tidak mempercayai klaim AS yang menyatakan bahwa perang melawan Iran adalah soal senjata nuklir, bukan minyak. Ketidakpercayaan ini menjadi penghalang utama terciptanya perdamaian.
Sementara itu, Eyre menyoroti gaya pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang dinilainya lebih menyukai kemenangan cepat ketimbang jalur diplomasi yang rumit. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab penyelesaian konflik kini berada di pundak negara-negara kawasan Timur Tengah.
"Mereka harus mengambil peran lebih besar, dengan dukungan AS, bukan kepemimpinan AS," ujar Eyre. Para pakar memperkirakan bahwa kebuntuan permanen (permanent stalemate) menjadi skenario paling realistis saat ini, sementara eskalasi militer berpotensi terus meningkat.