Kuba kini di ambang krisis kemanusiaan parah. Pasokan bahan bakar mereka terancam putus total setelah Amerika Serikat gencar menerapkan embargo ketat, bahkan mengancam negara-negara yang berani mengirimkan minyak ke sana. Situasi ini langsung memicu kekhawatiran global, dengan PBB sudah memperingatkan potensi "kolaps" di pulau itu. Di tengah tekanan Washington, Rusia dan Kanada mulai menunjukkan gelagat siap ulurkan bantuan, meski dengan cara dan motivasi yang berbeda.
Ketegangan di Laut Karibia makin memanas. Kuba tengah menghadapi ancaman krisis kemanusiaan serius akibat blokade bahan bakar yang digencarkan Amerika Serikat. Peringatan dari PBB tentang potensi "kolaps" di pulau itu bukanlah isapan jempol, mengingat pasokan energi Kuba sangat bergantung pada impor.
Akar masalahnya berawal awal Januari lalu. Washington melancarkan operasi militer ke Venezuela, diikuti dengan pengumuman Presiden AS Donald Trump untuk memutus aliran minyak dan dana dari Venezuela ke Kuba. Tak hanya itu, di akhir Januari, Trump juga mengeluarkan perintah eksekutif yang mengancam sanksi bagi negara mana pun yang berani memasok minyak ke Kuba. Ini bukan kebijakan baru, Kuba sendiri sudah puluhan tahun menderita di bawah embargo AS sejak Perang Dingin, menjadikan tekanan saat ini semakin membebani rakyatnya.
Melihat kondisi kritis ini, sejumlah negara mulai bereaksi. Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak, mengisyaratkan kemungkinan pasokan bahan bakar ke Kuba. Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan terang-terangan menyebut perintah eksekutif Trump itu "tidak bisa diterima" saat bertemu Menteri Luar Negeri Kuba. Sementara itu, Meksiko juga disebut-sebut berupaya menengahi blokade ini dan sudah mengirimkan bantuan kemanusiaan.
Dampaknya bagi Kuba sangat krusial. Sistem kelistrikan mereka mayoritas bergantung pada bahan bakar fosil, padahal produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 40% kebutuhan. Analis khawatir, upaya AS untuk menumbangkan pemerintahan komunis Kuba lewat pembatasan pasokan justru akan menghancurkan rakyatnya. Terlebih, kondisi ekonomi Kuba sudah morat-marit akibat pandemi COVID-19 yang sempat memicu eksodus besar-besaran, sekitar dua juta penduduk atau lebih dari 10% populasi meninggalkan negara itu.
Yang menarik, meski Rusia dan Tiongkok memiliki kedekatan dengan Kuba, sejauh ini dukungan yang mereka berikan masih bersifat simbolis. Namun, Kanada membuat langkah nyata. Ottawa baru saja menyatakan akan mengirimkan bantuan makanan senilai 8 juta dolar Kanada (sekitar Rp 90 miliar) melalui Program Pangan Dunia (WFP) dan UNICEF. Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, menegaskan bantuan ini murni untuk kebutuhan mendesak rakyat Kuba dan keputusan tersebut tidak dibahas dengan AS. Gerakan solidaritas ini sedikit banyak membuka harapan bagi Kuba di tengah tekanan global yang mencekik.