Pemerintah Italia mengambil langkah tegas menghadapi gelombang protes biaya hidup yang mulai memanas. Dalam rapat kabinet hari Selasa, Perdana Menteri Giorgia Meloni menyetujui pengerahan 500 personel militer ke Milan serta serangkaian sanksi hukum yang lebih berat bagi para perusuh.
Langkah ini diambil setelah aksi unjuk rasa di sejumlah kota utara Italia berujung ricuh pada akhir pekan lalu. Massa yang didominasi anak muda turun ke jalan memprotes lonjakan harga bahan bakar, energi, sewa rumah, upah yang rendah, hingga buruknya layanan publik. Aksi tersebut bereskalasi menjadi penjarahan toko, perusakan fasilitas, dan bentrokan dengan aparat kepolisian.
Melalui aturan baru yang langsung berlaku, siapa pun yang terlibat dalam kelompok berisi minimal lima orang dan membahayakan keselamatan publik saat demo terancam hukuman penjara hingga lima tahun serta denda maksimal 20.000 euro. Hukuman akan diperberat jika pelaku menutupi wajah atau menyebabkan korban luka.
Yang menarik, aturan ini juga memberlakukan tanggung jawab finansial kepada orang tua. Jika anak di bawah umur terbukti melakukan vandalisme dan penjarahan, orang tua wajib membayar ganti rugi atas kerusakan yang timbul. Polisi juga kini diberi kewenangan untuk menahan remaja berusia 14 hingga 17 tahun meski belum melakukan tindak pidana, asalkan ada bukti mereka membahayakan.
Namun, rencana pemberian wewenang kepolisian kepada tentara urung dilakukan setelah mendapat penolakan dari Presiden Sergio Mattarella. Meski demikian, Kementerian Pertahanan menegaskan militer akan membantu memperkuat keamanan di lokasi-lokasi vital dan meningkatkan pengawasan.
Meloni dalam unggahannya di media sosial menegaskan bahwa merusak dan mencuri bukanlah bentuk protes, melainkan kejahatan. Ia menuntut respons negara yang tegas terhadap aksi anarkis tersebut.
Situasi di Italia ini mencerminkan ketegangan serupa yang terjadi di Prancis, di mana ratusan ribu orang turun ke jalan dalam aksi unjuk rasa paling keras dalam beberapa tahun terakhir. Selain di utara, pemerintah Meloni juga menghadapi tekanan dari gelombang protes terpisah di Italia selatan, di mana para sopir truk memblokir jalan raya sebagai bentuk protes terhadap mahalnya harga solar dan biaya hidup yang memicu gangguan rantai pasokan.