JAKARTA - Organisasi konservasi terkemuka dunia, International Union for Conservation of Nature (IUCN), baru saja merilis peringatan serius terkait kondisi laut global. Dalam laporan terbarunya, IUCN mengklasifikasikan 96 persen sistem terumbu karang air dangkal di seluruh dunia ke dalam kategori "sangat terancam punah" (critically endangered). Status ini merupakan tingkat risiko tertinggi yang menandakan kemungkinan kepunahan total pada tahun 2075 jika tidak ada tindakan signifikan.
Laporan yang dirilis pada Kamis (23/10) tersebut menyoroti bahwa perubahan iklim menjadi ancaman utama yang membayangi kelangsungan hidup ekosistem ini. Mishal Gudka, selaku Scientific Lead dari asesmen tersebut, menjelaskan bahwa kenaikan suhu global memicu fenomena pemutihan karang (bleaching) yang semakin sering dan intens. Analisis IUCN menggunakan skenario kenaikan suhu global sebesar 2,7 derajat Celcius di atas masa pra-industri pada tahun 2100. Selain itu, kemunculan fenomena El Nino "super" tahun ini turut memperparah risiko kerusakan.
Dampak dari keruntuhan terumbu karang sangat luas. Ketika karang mati, ekosistem yang kaya akan biodiversitas ini akan digantikan oleh alga dan spons, sehingga tidak lagi mampu mendukung kehidupan biota laut seperti ikan kerapu. Bagi masyarakat, khususnya di wilayah pesisir, hilangnya terumbu karang berarti hilangnya sumber makanan laut dan potensi pariwisata. Terumbu karang juga berfungsi vital sebagai pelindung alami pantai dari erosi dan badai.
Meski memberikan peringatan mencekam, IUCN menegaskan bahwa terumbu karang di berbagai belahan dunia "belum sepenuhnya hilang". Gudka menambahkan bahwa karang memiliki kemampuan luar biasa untuk pulih kembali dari peristiwa pemutihan yang merusak. Oleh karena itu, upaya konservasi dan pengurangan emisi gas rumah kaca masih sangat krusial untuk menyelamatkan "hutan hujan laut" ini dari kepunahan.