TEHERAN, Oman - Perundingan sensitif antara Iran dan Amerika Serikat dikonfirmasi akan berlanjut pekan ini di Oman. Ini jadi babak baru upaya diplomatik kedua negara meredakan ketegangan yang belakangan memanas. Uniknya, meski punya dampak luas, negara-negara di kawasan justru belum diundang ikut serta.
Sumber Al Jazeera menyebutkan, Iran punya alasan kuat untuk ini. Mereka ingin format pembicaraan dengan AS stabil lebih dulu. Masuknya terlalu banyak pemain dikhawatirkan bisa mengubah proses negosiasi serius menjadi “pameran politik” semata, bukan fokus mencari solusi konkret. Pendekatan ini menandai pergeseran signifikan dibanding kesepakatan nuklir 2015 yang lebih berorientasi pada kontrol senjata.
Negara-negara mediator di kawasan, seperti Oman dan Qatar, memang melihat peran mereka lebih dari sekadar fasilitator. Mereka berharap bisa menjadi penjamin atas kesepakatan apa pun di masa depan, mengingat stabilitas mereka terdampak langsung oleh krisis Iran-AS. Ini menunjukkan bahwa aktor regional kini punya kepentingan strategis langsung dalam upaya de-eskalasi.
Dalam beberapa hari terakhir, diplomasi di kawasan memang terlihat sangat aktif. Ali Larijani, Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, terbang ke Moskow bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menggelar konsultasi di Istanbul, dan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani baru saja mengunjungi Teheran. Pertemuan-pertemuan ini membangun kerangka negosiasi yang terstruktur menuju kesepakatan komprehensif, bukan cuma pengaturan sementara.
Meski begitu, Washington masih menyisakan ambiguitas. Presiden AS Donald Trump dalam pernyataannya menyebut, “Iran berbicara dengan kami, dan kita akan lihat apakah kita bisa melakukan sesuatu, kalau tidak kita akan lihat apa yang terjadi.” Pesan campur aduk ini, antara keterlibatan diplomatik dan tekanan, mempertahankan ketidakpastian sebagai alat tawar-menawar.
Artinya, risiko perang memang sedikit mereda, setidaknya untuk saat ini. Namun, konflik inti belum terselesaikan. Isu program rudal balistik Iran dan pertanyaan lebih luas tentang pencegahan regional tetap menjadi ganjalan utama. Transfer atau pengenceran stok uranium Iran mungkin bisa jadi langkah awal membangun kepercayaan, tapi tidak menjawab akar masalahnya. Perundingan di Oman ini akan menjadi barometer penting apakah ketegangan di salah satu kawasan paling bergejolak di dunia ini bisa menemukan jalan keluar damai atau kembali memanas.