Konflik bersenjata kembali meletus di Ethiopia utara. Pada 23 September, pertempuran sengit antara pasukan pemerintah federal dan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) kembali pecah di wilayah Erbeti, Afar. Insiden ini meruntuhkan kesepakatan damai yang diteken hampir empat tahun lalu.
Pemicu utamanya adalah jalan buntu terkait proses pelucutan senjata dan klaim wilayah. Situasi ini membangkitkan kembali mimpi buruk perang saudara sebelumnya yang menelan lebih dari setengah juta korban jiwa dan memaksa sekitar 2 juta orang mengungsi.
Seorang jurnalis Al Jazeera yang meliput langsung ke lokasi menggambarkan kepanikan warga. Penduduk bergegas meninggalkan kota dengan truk dan mobil penuh barang bawaan. Tim jurnalis bahkan harus mundur ke arah Afdera setelah suara tembakan artileri terdengar semakin dekat, memaksa mereka bertahan di tengah gurun bersuhu ekstrem yang mencapai 50 derajat Celsius.
Analisis Dampak: Bagi masyarakat internasional, krisis ini adalah alarm keras bahwa stabilitas kawasan Tanduk Afrika sangat rapuh. Bagi warga sipil di Tigray dan Afar, mereka kembali terjebak dalam ketidakpastian; terancam jiwa, kehilangan tempat tinggal, dan akses bantuan kemanusiaan yang bisa terputus total jika eskalasi militer terus meningkat.