GAZA DARURAT WABAH: SAAT SAMPAH LEBIH KEJAM DARI BOM - Berita Dunia
← Kembali

GAZA DARURAT WABAH: SAAT SAMPAH LEBIH KEJAM DARI BOM

Foto Berita

Krisis kesehatan masyarakat akut kini menghantui Gaza, bukan hanya akibat serangan udara Israel yang tak henti, tapi juga karena tumpukan limbah, sistem sanitasi yang hancur, dan kurangnya air bersih. Situasi ini memicu wabah penyakit yang mengancam nyawa, menjerat warga sipil dalam "dua perang" sekaligus: serangan militer dan ancaman penyakit mematikan dari lingkungan.

Sejak invasi Israel ke Gaza dimulai, warga di sana terus menghadapi krisis kemanusiaan multidimensi. Selain ancaman bom dan peluru, kini mereka juga harus berhadapan dengan "perang" tak kalah mematikan: krisis sanitasi dan lingkungan yang memicu darurat kesehatan. Ratusan ribu orang yang terpaksa mengungsi berulang kali kini terjebak dalam kondisi hidup yang memprihatinkan, bahkan di tempat-tempat yang sangat berbahaya.

Salah satu kisah pilu datang dari keluarga Abu Amr. Mereka sudah belasan kali mengungsi dan kini terpaksa hidup di tenda yang didirikan tepat di samping tempat pembuangan sampah raksasa di area Remal, Kota Gaza. Bagi mereka, bertahan hidup berarti melawan polusi, penyakit, dan kehinaan setiap hari.

Saada Abu Amr (64), seorang nenek yang mengidap asma, menceritakan penderitaannya. "Kami selalu bilang, kami hidup dalam dua perang di Gaza. Satu perang membunuh dengan bom, yang lain membunuh dengan sampah," ujarnya. Bau busuk dari tumpukan sampah membuatnya sulit bernapas, bahkan di malam hari, membuat inhaler menjadi teman setia yang selalu diletakkan di bawah bantal.

Kondisi ini diperparah oleh minimnya akses terhadap kebersihan dasar. Suryya Abu Amr (35), menantu Saada dan ibu lima anak, mengungkapkan betapa mustahilnya menjaga kebersihan di tenda dekat tempat sampah, apalagi dengan langkanya air bersih. "Kami berulang kali terserang gastroenteritis (radang usus). Saya pernah hampir meninggal karena itu, dibilang di rumah sakit karena sanitasi yang buruk," kenang Suryya, yang harus berbagi toilet dengan puluhan orang. Padahal, sebelum perang, kebersihan adalah prioritas utamanya.

Destruksi infrastruktur yang masif akibat agresi Israel telah membuat sebagian besar Gaza tak lagi layak huni. Ini bukan sekadar kerusakan fisik, melainkan upaya sistematis yang oleh banyak warga Palestina disebut sebagai upaya membuat Gaza tak bisa ditinggali. Akibatnya, warga terpaksa berjuang untuk bertahan hidup di mana saja, bahkan dalam kondisi yang ekstrem.

Salem (40), suami Suryya, menjelaskan bahwa keputusan bertahan di dekat tempat sampah adalah pilihan putus asa. "Anak-anak saya sangat menderita, baik di musim dingin maupun panas, saat bau polusi terbawa angin. Kami bahkan tak bisa makan tanpa merasa mual," tuturnya. Serangga dan nyamuk menjadi ancaman konstan; putri bungsunya yang berusia dua minggu, Sabaa, sudah penuh dengan gigitan nyamuk.

Yang lebih mengerikan, saat badai tiba, air limbah kerap merembes masuk ke dalam tenda. "Ketika berangin, air limbah masuk ke tenda kami, kadang membasahi pakaian. Kami tidak punya baju ganti yang bersih. Saya bahkan harus salat dengan pakaian kotor," keluh Salem. Tanpa uang, tanpa air, dan di tengah musim dingin, pakaian butuh berhari-hari untuk kering. Ancaman tikus juga semakin parah, mengintai kesehatan keluarga setiap saat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak perang jauh melampaui korban jiwa langsung. Kehancuran sistem sanitasi, fasilitas kesehatan, dan ketersediaan air bersih telah menciptakan bom waktu kesehatan masyarakat. Jika tidak segera ditangani, wabah penyakit seperti kolera dan diare akut bisa menyebar tak terkendali, menambah daftar panjang penderitaan yang sudah sangat berat di Gaza.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook