Presiden Ekuador Daniel Noboa membuat geger dengan pengumuman penerapan tarif 'keamanan' sebesar 30 persen untuk barang impor dari negara tetangga, Kolombia. Kebijakan ini, yang akan berlaku mulai 1 Februari, merupakan respons tegas Ekuador terhadap dugaan kegagalan Kolombia dalam menangani penambangan ilegal dan peredaran kokain yang marak di wilayah perbatasan kedua negara.
Langkah Noboa ini disebut-sebut mirip dengan kebijakan mantan Presiden AS Donald Trump, yang juga sering mengkritik pemerintah berhaluan kiri Kolombia karena dianggap kurang agresif dalam memberantas perdagangan narkotika. Lewat unggahan di media sosial, Noboa memperingatkan bahwa tarif baru ini akan terus diberlakukan sampai Kolombia menunjukkan komitmen nyata untuk bersama-sama menghadapi peredaran narkoba dan penambangan ilegal di perbatasan.
"Kami sudah berupaya sungguh-sungguh untuk bekerja sama dengan Kolombia, meskipun kami sendiri menghadapi defisit perdagangan yang melebihi 1 miliar dolar AS setiap tahunnya," tulis Noboa. "Namun, saat kami berkeras untuk berdialog, militer kami terus menghadapi kelompok kriminal yang terkait dengan perdagangan narkoba di perbatasan tanpa ada kerja sama dari Kolombia. Oleh karena itu, mengingat minimnya timbal balik dan tindakan tegas, Ekuador akan menerapkan tarif keamanan 30 persen untuk impor dari Kolombia mulai 1 Februari."
Noboa, pemimpin sayap kanan berusia 38 tahun, memang dikenal punya kedekatan ideologis dengan Trump dan kebijakannya. Ketika Trump terpilih kembali pada 2024 (dalam skenario berita asli), Noboa langsung menyambut kemenangan itu di media sosial dengan menyebut "masa depan benua terlihat cerah". Sejak terpilih kembali pada 2025, Noboa juga vokal mendukung upaya Trump memperluas pengaruh AS di Amerika Latin, termasuk referendum yang gagal pada November lalu untuk membangun pangkalan militer AS di Ekuador.
Pemerintahan Noboa berargumen bahwa kerja sama erat dengan AS sangat penting untuk memerangi kejahatan kekerasan di Ekuador. Di sisi lain, hubungan yang akrab ini juga memperkuat upaya Trump untuk memperluas kewenangan AS di seluruh belahan Bumi bagian barat. Noboa sendiri telah dua kali menjamu Menteri Keamanan Dalam Negeri Trump, Kristi Noem, selama setahun terakhir.
Trump sendiri menjadikan tarif sebagai ciri khas masa jabatan keduanya, bahkan menyebut kata "tarif" sebagai "kata terindah" dalam kamus. Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, ia melancarkan kampanye tarif besar-besaran, termasuk tarif dasar 10 persen untuk hampir semua mitra dagang dan tarif individual tambahan untuk negara-negara tertentu. Trump berpendapat, tarif melindungi industri dalam negeri sekaligus mengisi kas pemerintah, dan ia juga menggunakannya sebagai alat untuk memaksa mitra dagang tunduk pada tuntutan kebijakannya.