REFERENDUM PANAS ITALIA: NASIB HAKIM & JAKSA DI UJUNG PILIHAN - Berita Dunia
← Kembali

REFERENDUM PANAS ITALIA: NASIB HAKIM & JAKSA DI UJUNG PILIHAN

Foto Berita

Warga Italia dihadapkan pada pilihan krusial yang akan menentukan wajah sistem peradilan negara itu. Sebuah referendum sengit tengah berlangsung selama dua hari, menjadi ujian besar bagi pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni di tengah perdebatan sengit tentang independensi dan kekuasaan yudikatif.

Perdana Menteri Giorgia Meloni, pemimpin sayap kanan Italia, mengajukan reformasi peradilan yang kontroversial ini. Tujuannya jelas: memisahkan peran hakim dan jaksa secara tegas, serta merombak total badan pengawas mereka. Menurut Meloni, perubahan ini penting untuk menjamin imparsialitas, memodernisasi sistem yang sudah tua, menjadikannya lebih meritokratis, otonom, akuntabel, dan terutama, bebas dari intervensi politik. Baginya, ini adalah langkah esensial demi peradilan yang lebih baik.

Namun, reformasi ini justru memicu gelombang kritik tajam dari berbagai pihak. Para penentang, termasuk Elly Schlein, pemimpin Partai Demokrat sayap kiri-tengah, menilai ini sebagai manuver politik untuk merebut kekuasaan dan berpotensi melemahkan independensi yudikatif. Mereka berargumen, reformasi ini gagal menyentuh akar masalah sebenarnya seperti persidangan yang berlarut-larut dan penjara yang penuh sesak. Franco Moretti, pengacara kriminal yang memimpin kampanye 'tidak', bahkan khawatir pengadilan disipliner baru bisa menjadi 'sayap bersenjata politik' yang digunakan untuk membalas dendam.

Bagian paling sensitif dari reformasi ini adalah perubahan pada Dewan Tinggi Kehakiman (CSM), badan pengawas dan disipliner yang anggotanya selama ini dipilih oleh rekan-rekan mereka dan parlemen. Meloni mengusulkan CSM dibagi menjadi dua dewan terpisah: satu untuk hakim dan satu untuk jaksa. Selain itu, akan dibentuk pengadilan disipliner beranggotakan 15 orang yang dipilih dengan cara diundi, bukan lagi melalui pemungutan suara antar sesama. Tiga anggota akan dipilih langsung oleh presiden seremonial Italia, dan tiga lainnya dari daftar pengacara berpengalaman yang disetujui parlemen.

Situasi ini jelas menjadi pertaruhan politik besar bagi Meloni. Sebuah kemenangan 'ya' akan memberinya dorongan signifikan di tengah berbagai tantangan, seperti dampak konflik di Iran dan ekonomi yang lesu menjelang akhir masa jabatannya. Sebaliknya, kekalahan 'tidak' akan menjadi pukulan telak baginya, meskipun ia telah menepis kemungkinan mundur dari jabatannya. Bagi kubu oposisi, hasil 'tidak' akan memperkuat upaya mereka untuk membangun aliansi yang mampu menantang dominasi Meloni di pemilihan parlemen tahun depan. Survei menunjukkan kedua kubu bersaing ketat, membuat hasil referendum ini semakin tidak terprediksi. Pemungutan suara akan berakhir pada Senin sore, dengan hasil awal diperkirakan keluar pada malam harinya.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook