Pesta demokrasi Amerika Serikat (AS) tahun ini diprediksi bakal menjadi yang paling menguras kocek sepanjang sejarah. Berdasarkan proyeksi lembaga independen Open Secrets, total belanja kampanye Pemilu Sela (midterms) 2026 ini bisa menyentuh angka fantastis, yakni hampir $12 miliar atau setara Rp190 triliunan.
Lonjakan biaya ini bukan datang dari para kandidat semata, melainkan dari gempuran 'Super PACs'—kelompok politik di luar struktur partai yang diizinkan menghimpun dana tanpa batas. Kelompok-kelompok ini menghabiskan lebih dari separuh total pengeluaran, yakni sekitar $5,5 miliar, untuk mendukung kandidat pilihan mereka secara tidak langsung.
Yang menarik, panggung politik AS kini dikuasai oleh segelintir orang super kaya. Nama miliarder Elon Musk mencuri perhatian sebagai donatur individu terbesar. Ia tercatat telah menggelontorkan hampir setengah miliar dolar untuk mendukung kandidat Partai Republik, dengan fokus utama pada pertarungan Senat di Texas—wilayah di mana banyak perusahaan Musk beroperasi.
Tak hanya Musk, deretan taipan lain seperti George Soros, Michael Bloomberg, hingga keluarga Uihlein juga ikut 'bermain' dengan sumbangan puluhan hingga ratusan juta dolar. Menurut data Federal Election Commission (FEC), hingga pertengahan Oktober, lebih dari $9,5 miliar telah dibelanjakan.
Analisis Dampak: Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi kesehatan demokrasi. Pakar keuangan kampanye, Michael Beckel, menyebut tren ini sebagai 'pemecahan rekor yang mengkhawatirkan' karena uang dari para elit kaya raya semakin mendominasi suara rakyat jelata. Masyarakat luas berisiko kehilangan representasi karena kebijakan yang diambil nantinya bisa jadi lebih condong kepada kepentingan para donatur besar dibandingkan kebutuhan publik. Selain itu, transparansi keuangan masih menjadi PR besar karena data final baru akan tersedia setelah pemungutan suara usai.