Ukraina dilaporkan tengah mendesak Amerika Serikat agar memberikan akses ke Starshield, versi militer dari layanan satelit Starlink. Permintaan ini bukan tanpa alasan, Kyiv ingin menggunakan teknologi tersebut untuk melancarkan serangan jarak jauh ke wilayah Rusia.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, membenarkan adanya permintaan tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa saat ini Ukraina belum mendapatkan akses ke sistem pertahanan itu. "Mereka meminta akses untuk melakukan serangan mendalam ke Rusia. Saat ini mereka belum memilikinya. Itu sedang dalam pembahasan," ujar Rubio seperti dikutip dari pernyataan Departemen Luar Negeri AS.
Rubio juga menekankan perbedaan mendasar antara Starlink dan Starshield. Jika Starlink adalah produk komersial yang diatur sebagai layanan sipil, Starshield adalah produk pertahanan yang dirancang khusus untuk kebutuhan militer dengan enkripsi lebih tinggi guna memproses informasi sensitif. Sistem ini diluncurkan pada 2022 dan utamanya digunakan oleh agensi pertahanan AS serta mitra pemerintah lainnya.
Isu ini mencuat setelah sebelumnya beredar kabar adanya pembatasan kecepatan pada terminal Starlink di medan perang. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, sempat menuding adanya gangguan layanan yang disengaja pada Rabu lalu. Ia menjelaskan bahwa satelit tidak dapat melacak antena pada objek yang bergerak lebih cepat dari 161 km/jam, yang berdampak pada efektivitas drone Ukraina.
Menanggapi tuduhan itu, Rubio membantah keras. Ia menyebut pernyataan Zelenskyy tidak berdasar dan menegaskan tidak ada instruksi dari Gedung Putih untuk memperlambat layanan internet tersebut. "Tidak ada seorang pun di Gedung Putih yang memerintahkan siapa pun untuk memperlambat internet... laporan itu sepenuhnya salah," tegasnya. Rubio memastikan layanan Starlink saat ini sudah kembali normal.
Di sisi lain, dinamika politik global turut memanas. Presiden AS Donald Trump menuai kritik dari kedua partai setelah membatalkan sanksi terhadap Rusia dan negara pembeli minyaknya. Zelenskyy pun menyayangkan kebijakan ini, menilai pelonggaran tekanan terhadap Moskow hanya akan memicu agresi lebih lanjut. "Imbalan finansial untuk Putin hanya mendorongnya untuk terus menyerang," tulis Zelenskyy di media sosial.