TEHRANGELES BERGOLAK: HARAPAN & KETAKUTAN DI TENGAH PERANG IRAN - Berita Dunia
← Kembali

TEHRANGELES BERGOLAK: HARAPAN & KETAKUTAN DI TENGAH PERANG IRAN

Foto Berita

Di jantung California, tepatnya Los Angeles, rumah bagi diaspora Iran terbesar di dunia yang akrab dijuluki "Tehrangeles", suhu politik memanas. Komunitas ini kini terpecah belah, bergolak di tengah konflik AS-Israel dengan Iran.

Pekan lalu, dua aksi protes besar terjadi di jalanan Los Angeles yang cerah, namun dengan pandangan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, demonstran mengibarkan bendera monarki Iran era lampau, menyuarakan dukungan terhadap serangan Amerika Serikat ke Iran dan menuntut perubahan rezim. Mereka berharap campur tangan ini bisa menggulingkan pemerintahan saat ini.

Namun, tak jauh dari sana, di depan Balai Kota Los Angeles, kelompok massa lain berkumpul menolak keras perang. Dengan lantang mereka meneriakkan "Hands off Iran!" Mereka mengecam tindakan Presiden Donald Trump dan memperingatkan bahwa intervensi militer AS dan Israel bisa membawa kehancuran besar bagi seluruh kawasan Timur Tengah. Kekhawatiran mereka beralasan, mengingat jutaan warga Iran sudah bertahun-tahun hidup di bawah represi pemerintah dan sanksi ekonomi AS yang berat.

Perpecahan ini bukan hal baru. Banyak warga Iran di Los Angeles yang merupakan pengungsi dari konflik masa lalu, seperti Perang Iran-Irak era 1980-an atau Revolusi 1979 yang menggulingkan monarki Mohammad Reza Pahlavi. Mereka membawa cerita panjang tentang perang dan imigrasi, namun kini berbeda pandangan soal konflik terbaru.

Pemicu konflik terbaru adalah serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu yang menargetkan kompleks Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Serangan ini berhasil menewaskan Khamenei yang berusia 86 tahun beserta putrinya dan beberapa kerabat. Kematian Khamenei, sebuah peristiwa yang mengguncang geopolitik, memicu perasaan campur aduk di kalangan diaspora. Banyak yang berharap ini akhir dari rezim yang menindas, namun di sisi lain, Sam Golzari, seorang seniman berusia 46 tahun yang keluarganya melarikan diri dari Iran, menyuarakan keraguan. "Saya ingin rezim ini lenyap. Tapi saya tidak yakin Trump atau Israel benar-benar memikirkan kepentingan negara dan rakyat saya," ujarnya, mengungkapkan kecemasan yang dirasakan banyak orang.

Di balik perbedaan pandangan ini, satu perasaan tampaknya menyelimuti hampir semua warga "Tehrangeles": kecemasan. Mereka terjebak dalam dilema antara harapan akan perubahan dan ketakutan akan penderitaan yang lebih besar bagi tanah air dan keluarga mereka di Iran. Konflik ini, alih-alih menyatukan, justru memperdalam jurang perpecahan dan menyisakan kegelisahan akut tentang masa depan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook