GAZA CITY, AL JAZEERA - Duka mendalam menyelimuti Kota Gaza. Jenazah seorang ibu dan anak perempuannya telah dimakamkan setelah menjadi korban serangan udara Israel yang menghantam sebuah apartemen pada malam hari. Prosesi doa pemakaman digelar di Gereja Saint Porphyrius, gereja Ortodoks Yunani tertua yang masih berdiri di Gaza.
Serangan tersebut tidak hanya merenggut nyawa ibu dan anak itu, tetapi juga menewaskan tiga orang lainnya, sehingga total korban jiwa dalam insiden ini mencapai lima orang. Gereja Saint Porphyrius sendiri bukan sekadar bangunan ibadah biasa; ia adalah simbol sejarah dan tempat perlindungan bagi komunitas Kristen Palestina yang jumlahnya terus menyusut di tengah konflik berkepanjangan.
Dampak dan Konteks Lebih Luas: Insiden ini menambah daftar panjang korban sipil di Gaza, di mana warga sipil sering kali terjebak dalam baku tembak dan serangan udara. Bagi masyarakat Indonesia, berita ini menjadi pengingat keras bahwa konflik di Timur Tengah terus menimbulkan penderitaan kemanusiaan yang nyata, bukan sekadar angka statistik. Komunitas internasional, termasuk Indonesia, terus mendesak gencatan senjata dan perlindungan bagi warga sipil, namun hingga kini eskalasi kekerasan masih terjadi. Peristiwa ini juga menyoroti kerentanan tempat ibadah dan bangunan bersejarah yang seharusnya dilindungi berdasarkan hukum humaniter internasional.