Ekspor minyak mentah dari Timur Tengah dilaporkan melonjak melewati level sebelum perang pada akhir September lalu. Data dari pelacak maritim Kpler menunjukkan pengiriman sempat menembus 19,5 hingga 22,5 juta barel per hari, lebih tinggi dari rata-rata normal yang hanya 18 juta barel. Lonjakan ini terjadi meski Iran gencar melakukan blokade dan serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
Namun, ada misteri di balik tingginya volume ekspor tersebut. Harga minyak dunia masih saja mahal. Analis menduga ada skema "biaya tol" rahasia yang dibayarkan negara-negara Teluk kepada Iran agar kapal mereka bisa lewat dengan aman. Dugaan ini disampaikan oleh analis senior Kpler, Michelle Brohard, yang menyebut potensi pembayaran hingga 10-20 persen dari nilai kargo demi keamanan pelayaran.
Meskipun belum ada bukti resmi, laporan ini diperkuat oleh temuan Lloyd's List sejak Maret yang menyebut adanya sistem "gerbang tol" oleh Garda Revolusi Iran. Situasi ini menciptakan fenomena "race to get out", di mana negara-negara produsen berusaha menguras minyak sebanyak mungkin sebelum perang terbuka kembali pecah. Dampaknya, masyarakat global harus menanggung biaya bahan bakar yang tetap mahal akibat ketidakpastian dan risiko geopolitik yang belum mereda.