PERANG DATA CENTER MEMANAS JELANG PEMILU AS - Berita Dunia
← Kembali

PERANG DATA CENTER MEMANAS JELANG PEMILU AS

Foto Berita

Pusat data atau data centre kini jadi sorotan panas jelang pemilihan sela Amerika Serikat pada 3 November mendatang. Bangunan raksasa yang menjadi jantung aktivitas internet dan ledakan AI ini tumbuh pesat, tapi sayangnya diiringi masalah konsumsi listrik yang boros dan dampak lingkungan yang mengkhawatirkan.

Data dari Data Center Map mencatat ada sekitar 12.250 pusat data di seluruh dunia, melonjak tajam dibanding 2021 yang baru sekitar 8.000 unit. Amerika Serikat memimpin dengan 4.767 lokasi, disusul Eropa di mana Inggris dan Jerman jadi yang terdepan. Menariknya, pembangunan kini mulai bergeser ke area pedesaan karena lahan di kota makin sempit.

Isu ini jadi komoditas politik yang sensitif. Baik kubu Republik maupun oposisi Demokrat kompak menolak ekspansi pusat data. Sikap mereka berseberangan langsung dengan Presiden Donald Trump yang menganggap protes publik sebagai "konspirasi sakit". Gesekan ini diprediksi bakal memanaskan suhu politik menjelang pemilu.

Skala pusat data memang bikin geleng kepala. Yang terbesar saat ini dioperasikan China Telecom di Hohhot, Mongolia Dalam, dengan luas nyaris satu juta meter persegi atau setara 140 lapangan bola. Proyek raksasa lain seperti Colossus 2 milik Elon Musk bahkan akan menampung ratusan ribu chip AI canggih Nvidia dan menggunakan 41 turbin gas metana untuk pasokan listriknya, langkah yang dikritik keras oleh aktivis lingkungan karena berpotensi meningkatkan polusi udara lokal.

Analisis Dampak: Bagi masyarakat global, fenomena ini memunculkan dilema klasik antara kemajuan teknologi dan kelestarian lingkungan. Di satu sisi, pusat data adalah tulang punggung ekonomi digital dan inovasi AI yang tak terhindarkan. Namun di sisi lain, lonjakan konsumsi energi dan jejak karbonnya mengancam target iklim. Bagi Indonesia, lonjakan pembangunan pusat data global ini patut menjadi cermin agar kebijakan transisi energi dan tata ruang tidak tergerus oleh ambisi investasi teknologi semata.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook