Kontroversi meledak setelah Duta Besar Amerika Serikat, Mike Huckabee, melontarkan pernyataan mengejutkan yang menyarankan Israel berhak menguasai wilayah luas di Timur Tengah, berdasarkan interpretasi biblikal.
Dalam wawancara dengan podcaster Tucker Carlson, Huckabee menafsirkan naskah Perjanjian Lama yang menjanjikan tanah kepada keturunan Abraham sebagai wilayah membentang antara Sungai Eufrat di Irak hingga Sungai Nil di Mesir. Wilayah ini mencakup Lebanon, Suriah, Yordania, dan sebagian Arab Saudi. Secara blak-blakan, Huckabee menyatakan, “Tidak masalah jika mereka mengambil semuanya.”
Pernyataan ini sontak memicu gelombang kemarahan dan kecaman di seluruh dunia Arab, termasuk dari sekutu dekat AS seperti Arab Saudi dan Liga Arab. Mike Huckabee, yang dikenal sebagai pendukung Zionisme Kristen garis keras, kemudian mencoba meredam kontroversi dengan mengklaim bahwa pernyataannya diedit secara selektif atau diambil di luar konteks oleh Carlson. Ia bahkan menyindir Liga Arab yang mengutuk komentarnya, dengan mengatakan 'membutuhkan penerjemah baru'.
Raed Jarrar, Direktur Advokasi kelompok hak asasi manusia DAWN yang berbasis di AS, menyerukan agar Huckabee segera dipecat dari jabatannya. Jarrar menegaskan bahwa pernyataan Duta Besar Huckabee bukanlah kesalahan semata, melainkan pandangan ekstrem yang tidak sejalan dengan kebijakan luar negeri AS. Menurutnya, kegagalan pemerintahan Trump untuk mengambil tindakan akan diartikan oleh dunia sebagai bentuk dukungan terhadap pandangan kontroversial Huckabee, sehingga merusak kredibilitas AS dan kemampuannya berperan konstruktif di kawasan tersebut.
Hingga kini, Departemen Luar Negeri AS masih bungkam dan belum menanggapi secara terbuka pernyataan Duta Besar Huckabee. Keheningan ini justru memperkeruh suasana. Pernyataan seorang duta besar yang terang-terangan mendukung ekspansi teritorial sebesar itu jelas bertentangan dengan hukum internasional dan upaya diplomatik AS yang selama ini berupaya mencari stabilitas. Insiden ini berpotensi besar memperkeruh ketegangan di Timur Tengah yang sudah bergejolak, serta mengikis kepercayaan sekutu Arab terhadap Amerika Serikat.