Hujan deras tiada henti memicu bencana banjir dan tanah longsor dahsyat di Pulau Utara Selandia Baru, menyebabkan beberapa orang dilaporkan hilang, termasuk anak-anak. Insiden ini memaksa evakuasi besar-besaran dan penutupan jalan di hampir seluruh pesisir timur.
Tim penyelamat kini berpacu dengan waktu mencari korban yang tertimbun longsor di berbagai lokasi. Salah satu area terparah adalah sebuah taman liburan di Gunung Maunganui, tempat tanah longsor menerjang campervan dan blok kamar mandi sekitar pukul 09.30 pagi waktu setempat pada Kamis. Tragisnya, peristiwa ini terjadi di minggu terakhir liburan sekolah musim panas, membuat anak-anak turut menjadi korban.
Tak hanya di Maunganui, polisi juga melaporkan dua orang hilang setelah rumah mereka tertimpa longsor di Papamoa, wilayah tetangga. Sementara itu, seorang pria berusia 47 tahun juga hilang setelah mobilnya terjebak banjir saat ia nekat mencoba menyeberangi Sungai Mahurangi, di utara Auckland.
Upaya pencarian dan penyelamatan terus dilakukan. Komandan Polisi Distrik, Superintendent Tim Anderson, menyatakan harapan untuk menemukan korban selamat masih ada, meski potensi longsor susulan sangat menghambat operasi. Tim pemadam kebakaran bahkan sempat mendeteksi tanda-tanda kehidupan di balik puing-puing, namun terpaksa mundur karena khawatir akan pergerakan tanah lebih lanjut.
Menteri Manajemen Darurat dan Pemulihan, Mark Mitchell, telah mengonfirmasi bahwa anak-anak termasuk di antara mereka yang hilang. Perdana Menteri Christopher Luxon juga terus memantau situasi dan perkembangan bencana ini di seluruh negeri.
Fenomena cuaca ekstrem seperti hujan deras berlebihan dan bencana alam lainnya ini semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia. Para ilmuwan memperingatkan bahwa tanpa langkah signifikan untuk mengurangi polusi, perubahan iklim yang disebabkan oleh bahan bakar fosil akan terus memperburuk kondisi ini di masa depan.