Jakarta, CNN Indonesia — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan kekecewaan keras karena tidak menerima Hadiah Nobel Perdamaian. Kali ini, ia menyebut keputusan komite Nobel sebagai 'aib yang tak terhapuskan' bagi Norwegia.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menghadiri kampanye akbar di Syracuse, New York, beberapa jam setelah pengumuman pemenang. Tahun ini, penghargaan bergengsi itu dianugerahkan kepada Navi Pillay, mantan hakim Pengadilan Kriminal Internasional asal Afrika Selatan, atas dedikasinya dalam memperjuangkan hukum internasional dan hak asasi manusia.
Trump mengaku tidak mengenal sosok Pillay dan menyebutnya sebagai 'orang misterius'. Ia pun mengeklaim telah menyelesaikan delapan konflik perang dan sedang berupaya menuntaskan dua konflik lainnya, meski tidak memberikan bukti konkret. 'Hadiah Nobel Perdamaian telah selamanya didiskreditkan oleh segelintir ideolog radikal yang anti-demokrasi,' ujar Trump, dikutip dari BBC.
Ini bukan kali pertama Trump mengungkapkan ambisinya meraih Nobel. Pada 2025 lalu, ia juga mengkritik keras saat penghargaan itu diberikan kepada pemimpin oposisi Venezuela, María Corina Machado. Saat itu, Perdana Menteri Norwegia, Jonas Gahr Støre, sempat menjelaskan bahwa keputusan Nobel dibuat oleh komite independen, bukan pemerintah Norwegia.
Analisis: Dampak dan Konteks
Kekecewaan Trump ini bukan sekadar luapan emosi sesaat, melainkan cerminan dari dinamika politik global yang semakin terpolarisasi. Sebagai informasi tambahan, Navi Pillay dikenal vokal dalam mengkritik pelanggaran HAM di berbagai negara, termasuk tindakan militer yang kontroversial. Kemenangannya dianggap sebagai kemenangan bagi supremasi hukum internasional.
Di sisi lain, sikap Trump yang terus-menerus menyerang integritas Komite Nobel berpotensi mengikis kepercayaan publik terhadap netralitas lembaga tersebut. Bagi masyarakat Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana pemimpin dunia menyikapi pengakuan internasional. Apakah penghargaan adalah alat politik, atau murni pengakuan atas kemanusiaan? Yang jelas, drama ini menunjukkan bahwa diplomasi global saat ini tidak lepas dari ego dan narasi personal para pemimpinnya.