Selama setahun terakhir, rumah tangga di Amerika Serikat harus merogoh kocek lebih dalam, sekitar seribu dolar AS, hanya untuk mendapatkan barang-barang yang sama. Ironisnya, keluarga berpenghasilan rendah justru merasakan dampak terberat dari kenaikan harga ini. Tak lain, penyebabnya adalah kebijakan tarif yang sempat digulirkan oleh mantan Presiden Donald Trump.
Setahun lalu, dari Gedung Putih, Trump mengumumkan tarif global sebesar 10%, ia menyebutnya "Liberation Day". Pengumuman itu sontak mengguncang pasar saham dan memicu respons beragam dari berbagai negara. Namun, Mahkamah Agung AS pada 20 Februari lalu menyatakan bahwa sebagian besar tarif Trump tersebut ilegal. Presiden, menurut putusan itu, tidak punya wewenang untuk memaksakan tarif luas hanya dengan dalih keadaan darurat nasional.
Sayangnya, putusan Mahkamah Agung itu belum sepenuhnya mengakhiri "perang dagang" yang merugikan konsumen. Hanya berselang beberapa jam, Trump kembali mengaktifkan aturan lain untuk memberlakukan tarif sementara, yang rencananya akan berakhir Juli ini. Ekonom dari Federal Reserve New York mencatat, selama periode tarif ini berlaku hingga putusan MA, rata-rata tarif efektif AS melonjak dari 2,6% menjadi lebih dari 13%. Ini adalah level tertinggi sejak Perang Dunia II, dan jelas menunjukkan bahwa janji Trump untuk mengurangi defisit perdagangan serta memperkaya AS tidak sejalan dengan realita di lapangan.
Trump selalu berargumen bahwa tarif adalah pajak bagi negara asing seperti Tiongkok dan Uni Eropa. Namun, studi Federal Reserve Bank of New York justru mengungkap fakta mengejutkan: bisnis dan konsumen AS sendiri yang menanggung hampir 90% beban ekonomi tarif ini, bukan eksportir asing. Dampaknya, survei menunjukkan separuh bisnis yang terdampak tarif memilih menaikkan harga jual produk mereka, membebankan langsung ke konsumen. Kini, pemerintah AS bahkan berpotensi harus mengembalikan hingga 175 miliar dolar AS kepada bisnis yang telah membayar bea masuk, sebuah angka yang tidak sedikit dan menunjukkan betapa peliknya kebijakan ini bagi perekonomian domestik serta dompet masyarakat.