Putusan Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat baru-baru ini menghebohkan publik dan komunitas LGBTQ. Pada Selasa kemarin, MA AS membatalkan undang-undang di Colorado yang melarang praktik “terapi konversi” bagi anak-anak LGBTQ. Keputusan ini, yang didukung oleh delapan hakim dan hanya satu hakim yang menolak, didasarkan pada argumen perlindungan kebebasan berbicara yang dijamin oleh Amendemen Pertama Konstitusi AS.
Mayoritas hakim, termasuk enam konservatif dan dua liberal, berpandangan bahwa membatasi terapi bicara semacam itu sama saja dengan membungkam satu sisi perdebatan, terlepas dari bahaya yang ditimbulkan. Hakim Elena Kagan menegaskan, "persoalan konstitusionalnya sudah jelas" karena negara dinilai menekan satu sisi perdebatan. Senada, Hakim Neil Gorsuch menambahkan bahwa Amendemen Pertama "berdiri sebagai perisai terhadap setiap upaya untuk memaksakan ortodoksi dalam pemikiran atau ucapan."
Namun, hanya Hakim Ketanji Brown Jackson yang menyuarakan penolakan. Ia khawatir putusan ini akan "membahayakan kemampuan negara bagian untuk mengatur penyediaan layanan medis dalam aspek apa pun," dan secara tegas menyoroti bahaya serius terapi konversi terhadap kesehatan remaja LGBTQ.
Apa Itu Terapi Konversi?
Terapi konversi adalah praktik kontroversial yang bertujuan untuk 'mengubah' identitas gender atau orientasi seksual individu agar sesuai dengan norma heteroseksual atau cisgender. Penting untuk diketahui, berbagai penelitian telah berulang kali mengaitkan praktik ini dengan peningkatan risiko depresi dan pikiran untuk bunuh diri pada individu LGBTQ. Kebanyakan asosiasi medis besar di AS telah mengecam praktik ini sebagai tidak etis, tidak ilmiah, dan berbahaya.
Keputusan MA ini bermula dari kasus Kaley Chiles, seorang konselor Kristen yang berargumen bahwa undang-undang Colorado melarangnya menawarkan terapi bicara berbasis keyakinan secara sukarela kepada anak-anak. Kasus ini bahkan mendapat dukungan dari administrasi mantan Presiden Donald Trump.
Sebelumnya, Colorado berdalih bahwa undang-undang mereka memang melarang 'praktik atau perawatan' untuk 'mengkonversi' remaja LGBTQ, namun bukan melarang diskusi umum tentang agama, gender, atau seksualitas. Colorado juga menganggap terapi bicara sebagai bentuk layanan kesehatan yang semestinya bisa diatur, namun argumen ini tidak diterima oleh mayoritas hakim.
Dampak dan Kritik keras
Putusan MA AS ini jelas memicu gelombang kritik dari para advokat hak-hak LGBTQ dan organisasi medis. Polly Crozier, Direktur Kebijakan Keluarga di GLAD Law, mengecam keputusan tersebut, menyebut terapi konversi sebagai "praktik berbahaya yang telah dikutuk oleh setiap asosiasi medis besar di negara ini." Ia menekankan bahwa putusan ini "tidak mengubah sains, dan tidak mengubah fakta bahwa terapis konversi yang membahayakan pasien akan..." (tetap merugikan pasiennya).
Dampak dari putusan ini tidak main-main. Diperkirakan, keputusan ini akan mempersulit upaya penegakan hukum atau pembentukan undang-undang serupa di sekitar dua lusin negara bagian AS lainnya yang sebelumnya telah melarang praktik ini. Ini membuka kembali celah bagi praktik terapi konversi yang terbukti merusak, mengancam kesehatan mental dan keselamatan anak-anak serta remaja LGBTQ di seluruh negeri. Putusan ini sekali lagi menyoroti tarik-menarik antara kebebasan berbicara individu dan kewajiban negara untuk melindungi warga, terutama mereka yang paling rentan, dari praktik yang tidak berdasar ilmiah dan berpotensi merugikan.