Sebuah serangan brutal oleh kelompok geng bersenjata di wilayah Artibonite, Haiti, menewaskan setidaknya 70 orang dan melukai 30 lainnya. Angka mengejutkan ini dirilis oleh kelompok HAM Defenseurs Plus, jauh melampaui estimasi resmi pemerintah yang menyebutkan sekitar 16 korban tewas. Insiden memilukan ini menambah daftar panjang kekerasan geng yang terus menghantui negara Karibia tersebut.
Serangan mematikan ini dimulai pada Minggu dini hari di komunitas pedesaan sekitar Jean-Denis, dekat Petite-Riviere, dan berlanjut hingga Senin dini hari. Anggota geng bersenjata menerobos masuk, membakar puluhan rumah, dan menyebarkan teror tanpa pandang bulu. Akibatnya, Defenseurs Plus memperkirakan sekitar 6.000 orang terpaksa mengungsi, sementara PBB sebelumnya melaporkan lebih dari 2.000 orang telah meninggalkan rumah mereka akibat serangan geng di wilayah yang sama beberapa hari sebelumnya.
Menurut pesan audio yang beredar di media sosial dan dikaitkan dengan pemimpin geng Gran Grif, Luckson Elan, serangan ini diduga merupakan balasan atas serbuan ke markas kelompoknya di Savien oleh geng rival. Situasi keamanan di Artibonite, yang dikenal sebagai lumbung pangan Haiti, memang semakin memburuk dan menjadi salah satu wilayah paling rawan kekerasan geng di luar ibu kota Port-au-Prince.
Polisi Nasional Haiti sempat mengerahkan tiga kendaraan lapis baja ke lokasi, namun pergerakan mereka terhambat oleh lubang-lubang yang sengaja digali anggota geng di jalan. Ketika polisi tiba, para pelaku sudah melarikan diri, meninggalkan puluhan rumah hangus dan korban luka yang kemudian dilarikan ke rumah sakit setempat. Pihak berwenang berjanji akan melancarkan operasi untuk memburu para anggota geng tersebut.
Defenseurs Plus dan Collective to Save the Artibonite mengecam keras situasi ini, menyebutnya sebagai 'pengabaian tanggung jawab sepenuhnya oleh pihak berwenang' karena minimnya respons keamanan. Krisis kekerasan geng di Haiti memang bukan hal baru. Laporan PBB menyebutkan, hampir 20.000 orang tewas di Haiti sejak 2021, dengan angka korban yang terus meningkat setiap tahun seiring menguatnya kekuatan geng bersenjata. Bahkan, Amerika Serikat telah menetapkan Gran Grif dan Viv Ansanm – koalisi ratusan geng di ibu kota – sebagai organisasi 'teroris,' menuduh mereka terlibat dalam pembunuhan massal, pemerkosaan geng, pembakaran, pencurian, serta perdagangan senjata, narkoba, dan organ tubuh manusia. Ini menunjukkan skala ancaman yang dihadapi Haiti di tengah ketidakstabilan politik dan minimnya kapasitas keamanan negara.